
Tuhan bukan lagi sesuatu yang abstrak.
Ia selalu hadir, bahkan tak pernah melarikan diri.
Dalam setiap nafas, Tuhan selalu menepati janji.
Ia menembus batas-batas pandang, hingga kadang aku luput bahwa Tuhan selalu membersamai.
Hai, Tuhan! terima kasih telah membawaku pulang untuk memulai kembali.
Sebelas tahun lalu, lima belas tahun lalu, segala hal yang terjadi memiliki alasan untuk dibenci dan dimaki.
Setidaknya, dua kali mengubur mimpi, dua kali pula aku melukai orang-orang yang bahkan sedang kecewa dengan diri mereka sendiri.
Pun kepada mereka yang menang dengan mimpinya, dengan kesempatan-kesempatan baik, aku iri.
Tak sadar diri bahwa semua terjadi di luar kendali.
Lalu ku kira perjalanan ini bisa dilalui sendiri; tanpa rumah untuk singgah, tanpa kekerabatan yang tampaknya selalu payah.
Menerima kenyataan bukan perkara mudah, tapi Tuhan selalu memelukku dengan caraNya.
Sepuluh tahun lalu, satu demi satu, Ia menunjukkan betapa banyak orang baik yang tulus membersamai, mengasihi tanpa tepi, membebaskan tanpa menyakiti.
Tuhan membawaku pulang bersama Biru Peduli dan memulai kembali kehidupan; tanpa benci, maki, dan iri pada trajektori diri.
Inilah rumah yang sebenar-benarnya rumah.
Ada ruang untuk diri sendiri, banyak kesempatan untuk merayakan kebersamaan.
Kemudian setiap perjumpaan menjadi babak baru kehidupanku; terikat dan menubuh.
Sepuluh tahun merayakan perbedaan dalam kebersamaan.
Banyak cerita yang tak mungkin terlupa begitu saja.
Akan lebih banyak kasih yang selalu dikuatkan, ada salah yang semoga sudah dicukupkan.
Ke manapun berlari, Biru Peduli selalu menjadi pengingat untuk bergerak-berbenah-bergerak-berbenah dan memulai kembali.
Selalu ada rindu dalam setiap jeda, pun gembira saat jumpa.
Empat belas tahun Biru Peduli, terima kasih sudah mengijinkan aku
singgah, pulang, menetap, dan kadang pergi sesuka hati, lalu kembali tak tau diri.
Terima kasih telah menanamkan cinta agar selalu berpihak pada semesta.
Bambanglipuro,
12 Juni 2020.
