Buku, Kedai Rasa

Kenangan Punya Masanya; Dirawat dan Diciptakan

Satu hari jelang kumandang takbir saling bersahut, di malam yang semakin pekat itu pula aku menyelesaikan buku ini untuk kedua kalinya; dalam sekali duduk, di antara lalu-lalang orang yang sebagiannya barangkali bertukar rindu atau sekadar makan malam bersama keluarga. Di sebuah kedai kopi yang tidak lagi menawarkan makanan karena pekerja yang terlampau lelah, berbagai rasa diramu di mejaku; hangat, sedih, dan haru. Kompleksitas peristiwa disampaikan dengan sederhana dan permainan kata yang membuatku tidak ingin memberi jeda. Sekalinya berhenti sebentar, karena ada bagian dalam diri yang tidak sengaja ditegur, memori dibangkitkan, dan kenangan-kenangan yang masih kurawat baik ternyata memberi sadar bahwa sepi dan kosong harus diterima, dirasakan, dan dihadapi. Seperti sebuah kutipan dalam buku ini,”…tidak hendak menghabiskan hidupnya dengan hanya merawat kenangan, tapi juga membuat kenangan-kenangan baru setiap hari.

Sebuah rumah peristirahatan di Desa Pandanwangi menjadi latar yang menautkan antara memori, emosi, perasaan, juga logika. Percakapan antara Coro dan Sachi, dua pemuda sepupuan yang terlibat perbincangan soal kemanusiaan, menunjukkan bahwa dunia ini tidak hitam dan putih. Pertengkaran tentang siapa yang paling berpihak, aktivis atau akademisi, nyatanya banyak simpul yang perlu diurai, pun keduanya memiliki sisi baik, rentan, dan bernilai. Rasanya bertaut begitu saja, obrolan mereka tentang penelitian dan kerja pendampingan tentu saja mengingatkanku pada metode etnografi terbuka yang belakangan sedang aku pelajari dengan lebih intensif. Dua pemuda ini juga terlibat percakapan santai dan pertengkaran nostalgia. 

Tentang meninggalkan dan ditinggalkan, menggambarkan Bapak yang ditinggal mati orangtua, istri, lalu kini satu-satunya adik perempuannya, Bibi Sari, akan tinggal di negeri jauh  bersama suaminya, Paman Giofridis. Pun rumah yang telah mereka bangun bersama harus direlakan. Rumah di Desa Pandanwangi yang dulu menjadi peristirahatan dua keluarga saat liburan, setelah ini akan menciptakan kenangan baru bersama pemilik barunya. Bapak dan Coro yang semakin berjarak tanpa tahu penyebab jarak itu, akan memiliki halaman baru dalam lembar bukunya, yang akan ditulis dengan peristiwa-peristiwa baru tanpa menghapus halaman-halaman lalu. Sebuah kalimat yang membuatku perlu cukup waktu untuk menamai perasaanku,”… tentang orang yang pergi dan orang yang ditinggalkan, siapa yang lebih sakit?” 

Membaca buku ini, bukan sekadar menyelami satu peristiwa. Dalam setiap pilihan kata yang ditulis oleh Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang, justru membuatku bergelayut dengan peristiwa lain dalam hidupku, yang barangkali memiliki rasa serupa, yang saat ini aku sedang berjibaku untuk menerima dan memprosesnya. Terima kasih, telah menyadarkanku bahwa hari ini kita punya kehidupan yang perlu untuk diberi porsi sama besarnya dengan memori baik di masa lalu. Hidup akan mencari dan menemukan masanya, berjalan bersama pilihan yang terus dibuat.