Tumblr

Beragama Tanpa Basa-Basi Negara

Saat aku menulis catatan ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Ibu Bumi sudah lama sakit, dan kini saatnya ia menunjukkan watak manusia di hadapan sesama manusia. Kenyataannya, bertahan hidup itu rumit, apalagi saling menghidupi. Dalam situasi pandemi, benteng pertahanan pribadi harus dikokohkan. Persetan dengan kamu, dia, atau mereka. Kondisi ini kemudian memicu kepanikan di level akar rumput. Siapa harus bergantung dan berlindung pada siapa? Pun negara sedang entah berdaulat pada yang maha apa.

Membaca kebijakan negara, tampaknya ada keberpihakan yang salah arah. Kebutuhan dasar rakyat terabaikan, sedangkan negara sibuk saling sikut untuk menyelamatkan kepentingan masing-masing. Antar kementerian latah adu pendapat, tidak satu suara. Kepala negara hampir kehilangan wibawa ketika tak mampu mengendalikan mereka. Kita seakan sedang menyaksikan parodi pertunjukan atas nama rakyat. Begitu juga dengan basa-basi negara atas nama agama yang menjadi drama panjang tanpa babak. Rasa-rasanya kita sedang bertamu dalam rumah tak bertuan, padahal sesungguhnya kita adalah tuan rumah yang dijajah oleh penjahat sirkus.

Ma’ruf Amin memulai lelucon dengan imbauan doa qunut sebagai tolak bala virus corona. Setelahnya, negara gelisah tentang pembatalan ibadah haji dan umroh. Permasalahan belum tuntas, ibadah sholat jumat menjadi perdebatan antara kelompok harus jumatan di tengah wabah dengan kelompok jamaah sholat dzuhur di rumah saja. Jelang Ramadhan hingga hari ini, persoalan mudik lebaran masih menjadi dagelan. Seorang kawan di Twitter berkelakar,”bentuk pengelolaan negara secara maju mundur ini sama sekali tidak cantik”.

Tanpa disadari, pada saat negara sibuk dan berebut keputusan tetang pengelolaan satu agama, kita telah melewati beragam perayaan dan upacara keagamaan dalam Nyepi. Tahun ini seisi bumi dengan beragam identitas agama berimajiner dalam kesunyian, mengembalikan kedamaian dan mendaulatkan hati, berbicara pada Tuhan dengan laku bajik yang mereka yakini; Isra Mi’raj (22 Maret 2020/1441 H), Nyepi (25 Maret 2020/Tahun Baru Caka 1942), Jumat Agung (10 April 2020), Waisak (6-7 Mei 2020/2564 BE), Ramadhan (24 April-24 Mei 2020/1441 H), dan Kenaikan Isa Almasih (21 Mei 2020). Pada saat negara sedang tarik ulur alih-alih mengatur, kita sudah tidak peduli tetapi justru saling membersamai. Saling bantu, saling jaga, hingga pada satu titik mungkin kita akan mengabaikan negara.

Ada sebuah catatan menarik pada perayaan Trisuci Waisak 6-7 Mei 2020/2564 BE lalu. “Persaudaraan Sejati Dasar Keutuhan Bangsa” adalah tema yang sangat relevan dengan fenomena yang sedang terjadi. Tampaknya Sang Budha sedang berdiskusi dengan Ibu Bumi. Mereka menyaksikan betapa romantisnya gerakan “rakyat bantu rakyat” yang muncul dari solidaritas akar rumput. Dua tahun terakhir mendengarkan ceramah perayaan Trisuci Waisak, dengan kesederhanaan bahasa dan persoalan-persoalan konkret, keteduhan itu tiba-tiba mengalir. Pesan-pesan yang dapat direfleksikan secara personal, tidak ada kemarahan, mengiringi berkecambahnya optimisme tentang kemanusiaa yang sejatinya masih terus tumbuh secara organik.

Dari ceramah tersebut aku berpikir bahwa keutuhan bangsa tidak hanya bergantung pada ketahanan perang sebuah negara. Basa-basi yang sedang dipertahankan oleh negara tidak sedikitpun melemahkan solidaritas rakyat sebagai sesama manusia. Ketika ketahanan pangan hampir sama sekali tidak diperhatikan oleh negara, pun mereka terlalu jumawa dengan segala kebijakan tanpa intervensi konkret, gerakan kemanusiaan itu lahir sendiri, menetas tanpa batas, dan semakin solid. Apakah mereka bergerak atas nama agama? Tidak! Gerakan solidaritas pangan di masa pandemi ini lahir atas dasar rasa kemanusiaan tanpa melihat jilbab, salib, pura, atau vihara. Sekali lagi, ini bukan sekadar basa-basi. Inilah yang disebut sebagai persaudaraan abadi; lahir tanpa tendensi, bergerak tanpa basa-basi.

Sebagai bagian dari agama mayoritas yang selalu dimanja oleh negara, aku malu. Sudahlah, kita beragama dengan rasa kemanusiaan, berbagi kehidupan dengan semesta, dan merawat Tuhan agar ia senantiasa membersamai niat baik dalam setiap nafas kita. Beragama tidak perlu basa basi negara yang latah.