
Di langit-langit Dongeng Kopi
Setiap manusia yang lahir selalu diibaratkan dengan kertas putih tak bernoda.
Lalu ia akan melukiskan noda-noda abstrak pada dirinya seiring berjalannya usia.
Namun nalar tak berbatas pada usia. Kesadaran menodai diri manusia bisa saja terjadi tanpa kendali logika, tetapi juga bisa sebaliknya.
Pun kesalahan dan kekhilafan barangkali juga menjadi bekal untuk berbenah.
Seperti apapun gambaran manusia, saya percaya bahwa ia membawa bekal, sesaat sebelum memutuskan untuk mengambil resiko hidup di dunia.
Segala yang terberi tentu menjadi benih yang akan tumbuh dan berkembang.
Manusia terus bergerak dengan keterbatasan nalarnya, hingga mencapai sebuah kenormalan yang ia anggap sempurna.
Anomali-anomali yang muncul sering menjadi bibit pertikaian.
Mungkin ini menjadi standar hidup manusia, bahwa yang sama, yang seragam, yang dilakukan bersama-sama adalah tuntunan.
Bahkan meski sering berbenturan dengan akal budi, ia tetap melakukannya untuk sekadar “ngumumi”.
Salahkah? Tidak juga….
