Seperti biasa, bangun tidur akan dimulai dengan gumam,”mau ke mana kita hari ini?” Sialnya, pertanyaan itu muncul sepanjang hari,”mau ke mana kamu setelah ini?”. Cukup lama membentangkan ingatan pada perjalanan yang pernah dirayakan, disesalkan, dan sebagian kecil yang direncanakan. Sebagian perjalanan lain yang akan terjadi, sebetulnya sedang aku lepaskan; jika ada kejutan datang, biarlah ia datang tanpa aba-aba. Dalam misi melepaskan itu, ada satu halaman yang ingin kubebaskan, meski kadang menakutkan. Biar saja, segala yang sudah direncanakan dengan rapi selama ini, nyatanya memberi pelajaran yang cukup menyedihkan, seperti pada lirik lagu “Orang Asing dalam Cermin” milik Kunto Aji:
Selama yang kau cari masih saja peran besar dalam nyaman yang kecil
Selama yang kau mau, yang kau tuju tak seirama
Selama itu aku kan datang
Sebagai ingatan, sebagai tamparan
Hari ini aku tidak hendak menghapus jejak, tetapi ragu untuk membuat jejak baru. Melihat jejak yang masih tampak, seperti menyaksikan jalan pertunjukan; riuh tepuk tangan yang memicu puas diri, memantik keinginan untuk menjadi lebih besar. Di balik pertunjukan, lelah tersamarkan oleh puja sebagai jagoan, yang lupa diri pada nilai bahwa kebergunaan bukan diukur dari seberapa besar diri kita, atau sebanyak sapaan yang kita terima di kerumunan. Jalan pertunjukan yang ramai penonton ini, tidak pernah memberi porsi yang sama pada situasi di belakang layar; yang memiliki nilai sama besarnya tetapi tidak butuh tepuk tangan; yang memastikan pertunjukan tetap berjalan tanpa disiarkan.
Pada jalan pertunjukan yang lalu, jagoan akan bergabung dengan jagoan, berkelakar sama-sama, enggan untuk berkawan dengan lingkar ruang yang berbeda. Pada jalan pertunjukan yang lalu, semua menyatakan setuju, tapi tidak sadar bahwa persetujuan itu hanya dari sekawanan pemain. Tak jarang, masing-masing pemain membawa kawan dekatnya untuk menonton pertunjukan. Lalu aku sadar, lima ratus penonton ini hanyalah kelipatan lima dari seratus pemain. Ternyata, kita berpesta sendiri selama ini?
Pada jejak yang baru nanti, aku takut hanya akan membuat jalan pertunjukan lain. Bisakah pertunjukan ini kita sudahi? Kita jalan tanpa panggung dengan riang dan ringan.
