Memori, Sampai Nanti

Merayakan Putaran Waktu

Kecenderungan memutar satu lagu berkali-kali dalam satu hari, bahkan berhari-hari dengan lagu yang sama, kupikir karena ada memori yang turut serta. Memori yang sengaja dimunculkan terus menerus, atau yang terpantik dan enggan untuk segera lenyap. Buatku, seketika ia menjadi memori yang perlu dirayakan, apapun rasanya. Bahkan, ia bisa hadir dengan perasaan yang berbeda; pada saat ia menjadi cerita terkini, ia membangkitkan rasa sakit. Dan saat ia kembali hadir sebagai memori, sakitnya telah reda, sehingga mengingatnya justru menimbulkan rasa bangga karena berhasil melalui.

Suatu pagi, seorang kawan mengirim pesan,

Apa kabar? sudah dengar lagu Tulus terbaru? Judulnya Teh Hijau

Percakapan berbentuk teks di gawai itu diakhiri dengan,

semoga lu sehat dan bahagia selalu!

Hangat sekali, aku diingat bukan lagi untuk bertukar kasus, melainkan sebagai penikmat lagu. Senang sekali, pagi itu kami bertaut sebagai kawan yang saling memberi semangat dengan cara yang jujur. Terharu, karena setelah memutuskan untuk berjarak dengan berbagai kasus, kami tetap terhubung sebagai manusia biasa yang mencintai musik dan punya idola. Satu hal sederhana yang bernilai tak terhingga.

Dora dan Peta Barunya

Siklus hidup dan garis jalan dalam lirik lagu “Teh Hijau”, kusebut saja itu peta. Berbagai perlintasan, persinggahan, dan persimpangan, seharusnya menjadi panduan untuk berjalan atau bahkan berlari. Dua putaran waktu yang lalu, aku bahkan melihat segala yang ada di depan hanya buram, tidak ada kehendak untuk bergerak. Hingga pada putaran berikutnya, jawabannya adalah lelah. 

Ada yang hilang dariku belakangan
Sedang tak mudah bertemu rasa senang
Sedang kucari yang jadi pencetusnya
Mungkin hilangnya atau siklus hidupku

Lagu ini membawa memori sebagai seorang diri yang butuh jeda dan akhirnya terang setelahnya. Barangkali manusia memang perlu waktu untuk berhenti sejenak, tanpa intensi apapun, untuk mendapatkan dirinya kembali, meneroka lintasan yang ingin ditempuh setelahnya, dan berjalan lebih jauh dari yang ia bayangkan. Hari ini, aku mendengarkan lagu ini sambil mengingat eksperimen-eksperimen yang kujajaki satu putaran terakhir. Dora yang kehilangan petanya tahun lalu, kini ia mulai menggambar sendiri atlasnya, dan pelan-pelan menempuh petualangan yang ia ciptakan sendiri.

Dari Klab Buku hingga Jalan Kaki Melamun Sendiri

Ketika punya banyak waktu untuk tidak melakukan banyak hal, percayalah, berbagai ide bermunculan, harapan-harapan kembali tumbuh, mimpi bertebaran kewalahan untuk dicatat dan diingat, dan kesempatan semakin terbuka. Awal mula kehilangan diri,  ada buku yang menemani, musik yang mengiringi sepi, dan tubuh yang tidak mungkin menolak untuk diajak ke sana kemari. Ada kawan yang tulus membersamai, tapi aku paham bahwa tidak semua orang memiliki kawan sebagai tempat singgah, pun setiap orang memiliki cara dan siasat untuk mengelola sepi dan hilangnya diri. 

Pada suatu malam di toko buku, aku berpikir,”gila juga ya, banyak sekali buku yang aku tuntaskan tahun ini.

Ada yang hilang, tetapi juga banyak yang baru dan tumbuh. Aku belajar hal baru, terhubung dengan kawan baru, bidang baru, dan cara menerjemahkan diri dari sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah ada. Segala hal baru pun banyak yang hadir dari berbagai perjalanan di masa lalu; kawan lama yang kembali dekat, hobi lama yang disuka, juga tempat-tempat yang menjadi ruang tumbuh tanpa batas waktu.