Memori, Sampai Nanti

Obituari untuk Mbak Taf

2009, kamu menyambutku

Masih ingat betul, jilbabmu merah marun, kemeja kotak-kotak terbuka dengan kaos di dalamnya. Tapi aku lupa celanamu berbahan jenis apa. Tanpa gincu, entah bedak tipis atau sekadar pelembab, wajah natural dan senyum ramah itu menyambutku di depan Movie Box Gejayan. “Think, act, change!”, satu program yang sedang kamu kerjakan bersama sebuah brand untuk mengajak orang muda berpikir kritis melalui kompetisi film pendek dokumenter. Kamu mengantarku ke sebuah ruangan dan bertemu Mas Ardi, suamimu. Saat itu aku masih anak SMA yang punya mimpi jadi jurnalis. Meliput kegiatan ini menjadi kebanggan bagi siswa sekolah pinggiran sepertiku. Hari itu menjadi salah satu momen penting yang memantik keinginanku untuk belajar dan mencintai dokumenter. Meski hari ini aku hanya menjadi penikmat, dan itu cukup. Terima kasih untuk obrolan pertama kita. Kukira tidak akan pernah ada perjumpaan lagi …

2012, peluk hangat yang pertama

Seorang kawan mengajakku untuk mengikuti lokakarya dan produksi film dokumenter. Tibalah di sebuah rumah cukup besar yang tampaknya baru selesai dibangun. Kamu menyambutku dengan sangat hangat. Melewati banyak hari yang tidak mudah dan penuh ketakutan saat itu, kamu satu-satunya orang yang meyakinkanku bahwa hari ini bisa dilalui dengan tenang dan banyak senang di depan sana. Tangan hangatmu menggenggamku erat dan memintaku untuk segera bergerak. Katamu,”semua akan baik-baik saja, ayo berangkat!”

2013 – 2019, pertolongan demi pertolongan

Skripsi, tesis, dan rencana-rencana lainnya tak pernah luput dari pertolonganmu. Kamu bukan arsiparis, tapi semua buku yang ada di rumahmu hidup dengan cerita dan telaahmu. Di ujung masa studi yang hampir aku sudahi, lagi-lagi kamu hadir. Apakah kamu memang sengaja dikirim oleh Tuhan untuk membersamai orang-orang hilang arah sepertiku?

Sapa rindu, janji temu, dan berita kepulanganmu

Samba sudah besar katamu. Tinggi badannya 189 cm, dan dua tahun lalu ia masuk perguruan tinggi. Sesekali, saat kamu beberes arsip, temuan cerpen dan tulisan-tulisan ajaib di rumah kau kirim, seakan-akan aku yang menulisnya haha … mana mungkin aku punya tulisan tangan serapi itu. Tak jarang kiriman-kiriman itu jadi pemantik bertukar kabar. Kamu tak pernah luput mengucapkan ulang tahun dan merapal doa baik untukku. Kita masih punya janji temu, ya?

Hari ini tetiba Mas Ardi mengirimkan kabar kepulanganmu. Tanpa tambahan kata-kata, aku pun kehilangan banyak kata untuk membalasnya. Kubaca percakapan kita satu persatu, tidak ada kabar buruk yang kau bagi selama ini, tidak pernah rasa sakit itu tampak. Bahkan kamu bilang sedang liburan, nonton Netflix, dan banyak makan coklat. Begitu tidak peka membaca tanda, beberapa hari lalu aku sengaja lewat depan rumahmu, tapi juga tak mampir. 

Suaramu, parasmu, senyum hangat dan kebaikan-kebaikanmu akan selalu hidup selamanya.