Sudah kuduga, algoritma hari ini akan bekerja keras untuk menampilkan obituari untuk Vidi, seorang penyanyi dengan suara unik yang banyak dicintai; bukan hanya oleh penggemar, melainkan kawan, kerabat, dan orang terdekat yang mengasihi. Cerita baik, memori, mimpi disampaikan dengan tulus dari hati, barangkali menjadi siasat menyeka duka, karena setelah ini tidak akan ada perjumpaan lagi. Unggahan acak tentangnya selalu muncul setiap dua unggahan lain bergulir; yang semula aku membaca satu demi satu dengan hati-hati, tiba-tiba mencermati pola ini. Kuletakkan gawai, kehilangan ini terlalu beresonansi. Bukan pada sosok yang tidak kukenal ini, melainkan bayang-bayang rasa yang tidak lagi punya kata yang tepat untuk dituliskan sebagai definisi.
Siang ini kunikmati tidur panjang tanpa distraksi, dan barangkali karena enggan mengakui rasa sedih, atau mungkin saja terlalu malas untuk mencari alasan ia timbul kembali. Malam hari, sebuah utas menjumpai, ia mengatakan bahwa orang-orang yang masih hidup dalam rentang usiaku akan mulai mengkhawatirkan kematiannya, disebabkan oleh semakin sering mendapati kabar kematian orang-orang terdekatnya. Utas yang tak aku hiraukan dan bergulir begitu saja, karena aku lebih mencemaskan kematian siapa lagi yang harus aku hadapi setelah ini?
