Akhir-akhir ini, hujan mulai jarang bertandang, matahari buru-buru membawa terik meski jarum jam menunjukkan hari masih cukup pagi. Konon, kombinasi cuaca yang hangat dan tanah yang tidak terlalu lembab akan menjaga kualitas hidup para sapi. Sebagai salah satu makhluk penghasil keju, para sapi hidup berbahagia untuk menghasilkan susu terbaiknya. Ramalannya, keju yang sempurna bisa dinikmati dari hasil panen para sapi bahagia di musim ini.
Aku sedang mencecapnya, keju-keju legit dengan banyak varian rasa di setiap suapnya. Aku sudah mendambakannya cukup lama, sebuah keju varian baru yang luar biasa nikmatnya. Rasanya, lebih dari proyeksi itu. Sepotong keju ini kudapatkan setelah berkali-kali mendapati banyak sapi yang mati kekurangan nutrisi. Hingga di suatu pagi, kuajak bicara diriku ini dengan sangat hati-hati; ada satu keju baru yang tidak diduga rasanya. Siapkan bahagiamu menyambutnya!
Dan benar! Kusambut dua potong keju di bulan Maret! Memang bukan sepotong besar. Namun, dua potong ini sangat luar biasa. Mereka datang saat aku tidak berambisi atas apapun, tapi terus berjalan semampuku untuk mencari sapi-sapi bahagia kaya nutrisi itu. Keju terbaik ini tiba di waktu yang tepat; saat aku sudah tidak ingin menunjukkan apapun pada siapapun, saat aku sudah menerima segala yang akan hadir dengan penuh kesadaran dan rasa syukur. Kunikmati keju ini dengan cukup.
Kurasa ini bukan keju yang sempurna, karena aku menikmatinya di awal musim kemarau. Masih ada kemarau panjang yang tidak terduga, karena sebuah ramalan cuaca mengabarkan bahwa akan ada panas ekstrem melanda sebagian belahan bumi tertentu, termasuk di tanah yang sekarang sedang kupijak. Ada khawatir, bukan lagi cuaca hangat, melainkan panas; bukan lagi tanah yang sedikit kering, melainkan gersang.
Namun, aku percaya bahwa alam bekerja dengan adil, meski ia diperlakukan sebaliknya. Keju apa lagi yang akan kucecap setelah ini? Kurasa, ia akan datang dengan cerita baru lainnya, barangkali di sela-sela suapan keju menenangkan yang saat ini sedang dalam genggaman.
