Memori, Sampai Nanti

Catatan Tanpa Judul

Kenapa harus berteman dengan kehilangan, ketika kehadirannya justru ingin dilenyapkan? Meski pada suatu titik, kehilangan menyadarkanku bahwa ada laku baik yang ingin kita selamatkan, agar ia di sisi kita selamanya. 

Seorang paruh baya yang masih kusapa kemarin petang, tetiba berpulang. Seorang tetangga bahkan tak percaya, sebab sore tadi masih melihatnya menyiapkan bubur untuk beberapa ternak di samping rumah. Seseorang yang tidak pernah marah, tersenyum murah, punya ruang yang sangat luas untuk memaafkan, dua hari lagi akan ditutup petinya. Senyum siapa lagi yang akan Dia ambil tiba-tiba? 

Tuhan begitu menyayanginya, bahkan tak rela kami memilikinya sedikit lebih lama. 

Sirine, sebuah tanda bahwa jasadnya sudah dekat. Kupikir akan semakin nyaring, ternyata semakin lemah. Seperti baik budinya, ambulance pun mengantarnya dengan sangat tenang, ketika ia mulai memasuki perkampungan, tempat di mana kami sedang menunggu dengan peluk terbuka. Sebentar lagi, surga menyambutmu, tepat setelah hari keseribu salah satu kawan terbaikmu dirayakan kebebasannya dari dunia. 

Kujaga sapa hangatmu kemarin sebagai akhir yang tak pernah berakhir. Suwargi langgeng…