Proud to be me
Proud to be me
Proud to be me
Lirih pelan beresonansi dengan memori yang dimunculkan perlahan. Semula, ia menjadi gelombang yang membuat rongga pernapasan terasa menyempit dan terbakar. Perlahan, ia mengarahkan untuk melepaskan, memberi jarak, dan menjadi tenang.
Sayangnya, tidak semudah itu mencapai tenang. Sesak, jemari lemas bergetar sesekali mengeringkan wajah agar tak tampak lemah. Tidak sampai pecah, aku berhasil menahannya, meski pusing sesaat setelahnya. Tenang yang diupayakan masih berhenti di panggung sedih. Konon, di sini memori baik tidak perlu diabaikan, tetapi yang memburuk perlu diterima dan tidak dibiarkan berkuasa. Sebuah tanda masih ada cinta, katanya. Meski aku tidak rela, apa yang sudah sangat menyakiti masih disebut ada cinta di dalamnya. Tidak perlu ditolak, katanya. Cukup dirasakan dan mari berjalan tegak ke depan.
Sedihmu untuk melihat masa depan, bukan bertolak ke belakang
Kegugupan ternyata bisa mengupas hiasan kuku tanpa bantuan dan tanpa khawatir akan terluka. Ada rongga di dalam diri yang tidak sepenuhnya diijinkan terbuka, tetapi nyatanya terbaca. Ada waspada, benci, marah, dan kecewa yang sempat padam, tetiba meradang dan membuatku tak lagi tahu apa yang penting untuk diupayakan esok hari, bahkan detik ini.
Lakukan kebaikan untuk diri sendiri, dan ingatlah kebaikan-kebaikan yang masih terus berjalan hingga detik ini.
Memutuskan untuk berjarak tanpa batas waktu, pada hal-hal yang tidak signifikan untuk dipikirkan, adalah pilihan untuk merasa aman, setidaknya untuk diri sendiri. Konon, simpan energimu untuk melakukan kebaikan. Karena dengan kebaikan, ada lega dan lapang. Luka bukan hanya dirawat, melainkan dipulihkan.
Katakan, ada banyak cinta hari ini!
