Setiap orang punya cara untuk menyambut tahun baru. Sejak 2024, Kunto Aji dan tim Rancang Rencana menginisiasi URUP Festival di Asram Yogyakarta, sebuah pertunjukan yang menyebarkan semangat bahwa tahun baru perlu disambut dengan hidup yang lebih sehat; bangun pagi dan memulai kembali. Tahun ini menjadi penyelenggaraan ketiga, dan selalu ada kejutan setiap tahunnya.
Babak Terbenam dan Terbit, dua masa dalam satu rangkaian ditawarkan untuk memberi nilai pada perjalanan yang memberi jejak, dan langkah yang segera beranjak. Babak Terbenam akan dimulai pada 31 Desember sore hingga malam hari. Tidak ada pesta kembang api pada detik pertama satu Januari, karena tubuh kita perlu jeda; mengistirahatkan fisik dan pikiran dengan tidur yang cukup sebelum bangun keesokan paginya untuk menyambut terbit matahari pertama kalinya, dan disebut sebagai Babak Terbit. Dua babak ini menjadi pilihan pada dua penyelenggaran terakhir, kita bisa mengikuti keduanya atau salah satu saja. Seperti hidup, kita memiliki kebebasan untuk menghayati dan merayakannya.



Merayakan kehidupan seperti halnya menyambut terbitnya matahari pertama di awal tahun; seperti menanti sebuah kelahiran baru. URUP Festival, mengajak manusia lintas usia untuk merayakan hidup bersama-sama.
Dua kali menjadi bagian dari URUP festival, memberi saya ruang untuk menghayati bahwa segala yang dikehendaki bisa diupayakan dan terjadi, atau sebaliknya; diupayakan dan lari namun tetap diterima, karena tidak semua hal ada dalam kendali. URUP memiliki arti nyala. Entah dinamai sebagai festival atau pertunjukan, saya mengalami panggung imersif sebagai teaser kehidupan baru. Setidaknya, kita harus hidup satu putaran lagi, sampai matahari terbit esok pagi, atau URUP sekali lagi.
Kita mati setiap malam
Untuk bangkit saat pagi
Untuk kejar mimpi lagi
Untuk jatuh cinta lagi
Untuk relakan yang pergi
Untuk memulai kembali
Penggalan lagu pembuka yang dirapal pelan layaknya mantra. Tanpa pengeras suara, dilantunkan oleh Kunto Aji, diikuti oleh semua yang sedang duduk di atas rerumput basah. Rengeng-rengeng diiringi sisa embun, gesekan daun-daun, sesekali kicau burung yang entah dari sebelah mana. Hati alam dan manusia bersenandung menyambut kehidupan yang akan dimulai lagi, dengan babak dan harapan baru.
Dimensi Sensori di Panggung Imersif
Kelahiran seringnya disambut, meski sebagian darinya ada yang luruh sebelum waktunya. Meluruhkannya pun tidak berarti membuang. Mereka memiliki pertimbangan untuk kehidupan lain yang sedang diperjuangkan; pun kehidupan selalu dirayakan dengan ragam bentuk dan caranya.
Jika kehidupan adalah panggung dan kita punya kehendak atasnya, siapa yang bekerja untuk menentukan arahnya? Mungkin saja semesta dengan segala kuasanya; dengan doa, kepercayaan atas Tuhan atau dewa-dewa.
Bagi saya, panggung URUP bukan hanya saat Kunto Aji, orkestra dan para penampil lainnya berada di tengah-tengah audiens dan bersenandung. Panggung URUP dimulai setelah saya lepas dari parkiran dan mulai berjalan menuju kompleks Asram Edupark. Memasuki area kampung kota (perkampungan di tengah kota) pukul 03.00 dini hari, tidak ada hiruk pikuk selain gesekan alas kaki dengan aspal, sesekali suara-suara serangga. Gelap tidak begitu pekat, karena lampu di teras-teras rumah warga menolong pandangan kami. Tidak ada penerangan yang berlebihan dari penyelenggara, sehingga tidak mengganggu nuansa alami.

Setibanya di Asran Edupark, kami disambut oleh sebuah papan imbauan untuk berjalan tenang, merasakan langkah demi langkah; tanah basah yang sedikit dihindari, rerumputan yang tak sengaja terinjak, pepohonan yang memberi nuansa teduh dan menyimpan gelap, seakan malam masih panjang. Pada titik tertentu, aliran sungai kecil gemericik menenangkan. Suara nafas, alam, dan langkah kaki disambut dengan potongan-potongan lirik lagu yang bisa dibaca sebagai mantra sepanjang jalan; papan lirik lagu berdiri menyambut dengan jarak tertentu. Rasanya, saya seperti sedang berjalan tenang sambil merapal mantra. Saya sempat memperhatikan sekitar, beberapa orang mungkin bingung, antara ingin menghayati suasana, atau mendokumentasikannya.
Ada dimensi sensori yang sengaja dibangkitkan. Pertunjukan ini bukan sekadar memanjakan telinga dan mata. Menyediakan tempat untuk sholat subuh berjamaah, menurut saya bukan hanya menggugurkan kewajiban soal penyediaan ruang ibadah. Lebih dari itu, air wudhu yang membasahi beberapa bagian tubuh di pagi hari, sholat di ruang terbuka akan memunculkan perasaan magis bagi sebagian orang. Barangkali juga akan membentuk koneksi emosional tentang spiritual, kehidupan, dan alam.
Jika kita tiba tepat waktu, beberapa orang sedang menyapu panggung orkestra. Memang, ini sebuah pertunjukan. Namun, bagi saya, ini bukan sekadar performatif. Ia ingin memberi pesan tentang pembersihan diri untuk memulai laku yang baru. Secara harfiah, menyapu memang tindakan membersihkan, dan selalu dilakukan setiap pagi, setidaknya itu aktivitas pertama di rumah saya selama ini; bangun tidur, simbah atau ibu saya akan menyapu halaman. Ritual yang saya amati tetapi jarang saya lakukan tentu saja.
Hanya kesepian yang bisa membantumu reda
Begitulah penggalan lirik lagu Asimetris mengingatkan saya selama menjalani panggung imersif menuju URUP 2026 kemarin. Setiap langkah terkoneksi dengan satu emosi dan memori, meredakan duka lara, menyempurnakan cinta dengan caranya.
Teaser Kehidupan Baru
Pertunjukan tentang dan untuk kehidupan, sangat tepat untuk diresapi dan menjadi bekal untuk dijalani esok hari. Saya dengar, lebih dari tiga ribu tiket terjual. Angka yang tidak sedikit. Pertunjukan luar ruang yang sangat cair, memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk memilih posisi duduknya, membawa alas sendiri, juga tidak ada larangan untuk keluar masuk arena. Tentu saja ini bukan sebuah perkara, karena selama tiga jam duduk, orang mungkin saja perlu ke kamar kecil atau sekadar sesekali berdiri menggerakkan pinggang dan sendi kaki. Meski saya tidak melihat banyak pergerakan tersebut, karena barangkali orang terlalu sayang untuk melewatkan sedetik pertunjukan.
Namun, sedikit hal yang mengganggu saya adalah lalu-lalang orang, terutama di bagian belakang baris terakhir. Kebetulan, saya duduk di sana. Saya memilih baris terakhir karena paling tinggi, jauh, sehingga berharap bisa melihat panggung orkestra secara menyeluruh.
Beberapa orang merapal mantra menjadi momen penting. Apalagi, lirik-lirik lagu Kunto Aji juga menemani masa-masa sulit untuk pulih. Sebagai orang yang cukup mudah tergoyahkan dengan distraksi, saya merasa panggung ini adalah teaser kehidupan baru. URUP yang lebih intimate tentu saja tidak mungkin, karena banyak orang ingin mengalaminya, sehingga, doa, harapan, dan mantra yang dirapal selama URUP menjadi bekal untuk lebih dihayati esok hari, bukan langsung di hari itu. Hari di mana matahari terbit pertama kalinya, apa yang kita lakukan bersama untuk menyambutnya di bumi Asram adalah teaser untuk banyak hari setelahnya.
Tak Sekadar Jumpa Penggemar
Tahun lalu, saya datang sebagai pendengar pemula lagu-lagu Kunto Aji, cukup telat memang. Baru beberapa lagunya yang saya hafal liriknya, pun yang paling meresap adalah Jangan Melamun Saat Hujan. Setelah URUP 2025, hati saya hangat, rekaman video dari gawai, saya putar berulang. Saya juga mulai mendengarkan lagu-lagu lainnya. 2025 adalah awal saya menggandrungi karya-karya Kunto Aji, mengikuti beberapa pertunjukan musiknya, mendengarkan siniar yang mengundangnya, membaca lirik dan takarir akun media sosialnya, hingga 2026 saya merasa perlu untuk datang kembali.
Saya rasa, hal ini juga dialami oleh beberapa orang. Pada 2025, saya mengajak dua kawan. Keduanya saat itu sedang bingung akan merayakan tahun baru dengan cara apa. Senang, karena ternyata satu di antara mereka mengalami perjalanan yang sama. 2026, kami datang kembali dan membawa kawan baru lagi.
URUP bukan sekadar jumpa penggemar. Selama pertunjukan URUP 2026, selama saya duduk, dua orang remaja di sebelah saya tidak berhenti mengobrol. Tidak berniat untuk menguping, tetapi karena hampir tidak ada jarak di antara kami, obrolan-obrolan mereka terdengar jelas. Obrolan berganti dari satu topik ke topik lain, sama sekali tidak ikut bernyanyi, membuat kawan saya bergumam di perjalanan pulang,”sepertinya sebelah kita tadi bukan penggemar atau penikmat lirik-lirik lagu Kunto Aji.”
Bisa jadi tepat. Namun, saya justru melihat ini sebuah fenomena menarik yang bisa ditelaah dan tidak terbatas pada; mereka mungkin menginginkan euforianya; terpantik oleh takarir di media sosial; bingung merayakan tahun baru seperti kawan saya 2025 lalu; atau tertarik dengan kegiatan lagi yang menjadi bagian dari URUP 2025; sedang bereksperimen; dan masih banyak asumsi lainnya. Bagi saya, ini menjadi sebuah kesadaran juga tentang ritual memulai kehidupan baru dengan caranya masing-masing.
Selain penonton dan pengunjung, keterlibatan komunitas lokal untuk menjadi bagian dari rangkaian URUP juga menarik; pasar URUP, kelas, program Terbenam, hingga paduan suara anak-anak. Teaser kehidupan ini rasanya seperti ditanggung bersama-sama. Terdengar berlebihan bagi sebagian orang, tapi biarlah. Itu yang saya yakini.
Tentang Merawat Bersama
Pertunjukan ini dihidupi bersama, artinya ada penyelenggara yang menyiapkan panggung imersif untuk para penontonnya – atau bahkan lebih dari sekadar penonton, juga ada yang hadir dan mengalaminya. Tema tahun ini adalah Menjaga Kewarasan. Ada cinta yang dirayakan bersama, ada kebahagiaan yang dihadirkan untuk semua. Tentu saja, di balik itu ada kerja perawatan yang besar. Semula ini menjadi pertanyaan saya, bagaimana para pekerja di balik pertunjukan ini? Mari kita lanjut rasan-rasan itu pada bagian lainnya nanti.
URUP, saya mengalami, saya menikmati, dan saya akan hidup setidaknya satu putaran lagi.
