Memanjakan mata di toko buku, baik secara fisik maupun daring, seringkali tergiur oleh rekomendasi bacaan yang didesain oleh kebutuhan pasar. Di dalam bangunan toko, buku-buku dipajang dengan strategi tertentu; buku terlaris akan mudah ditangkap mata, agar kita sekejab tersamarkan dari tumpukan buku-buku menyedihkan yang hampir masuk gudang atau ditarik dari peredaran. Mereka sempat berlenggang dalam tumpukan buku baru dan bertarung dengan pasar. Toko daring tidak kalah lihai, gawai kita cukup pintar membaca benak dan keinginan. Disadari atau tidak, kita telah terjebak dalam bayang-bayang algoritma, yang dalam satu sisi terkesan diberikan banyak pilihan, padahal sebetulnya kita sedang menjadi burung panik di dalam sangkar emas; seakan-akan kita diberi petunjuk, nyatanya pilihan kita diarahkan sedemikian rupa.
Memilih buku, selain diarahkan oleh pilihan pasar, kerap kali juga datang dari pertimbangan relasi pertemanan dengan penulisnya, atau bahkan sekadar kenal, bahkan baru satu kali bertemu. Tidak akrab, tidak dekat, hanya pernah melihat pun seakan-akan merasa punya ikatan, baik berpengaruh pada keputusan akan membeli bukunya atau mengabaikan dan memilih buku lainnya. Media sosial sangat pandai mempengaruhi keputusan kita. Buku bagus yang ditulis oleh orang yang sedang dihujat di Twitter misalnya, akan dengan segera kita abaikan begitu saja. Buku biasa dengan ulasan luar biasa, buru-buru kita cari, baca, lantas mungkin sebagian isinya membuat kita kecewa. Ah, bagus dan tidaknya kan soal selera.
Saya baru saja membaca sebuah kumpulan cerpen. Kebetulan, menurut saya tulisannya bagus, dan saya menikmatinya. Saya juga mengenal penulisnya. Sepanjang membaca cerpen-cerpennya, saya membayangkan dia menjadi salah satu tokoh, entah tokoh utama maupun karakter pendamping lainnya. Setiap gerak kata yang ditulis, saya teringat bagaimana percakapan dengannya sehari-hari, atau setidaknya mengingatkan saya betapa cair dan santai logatnya ketika ia terlibat obrolan dengan teman tongkrongan atau rekan kerjanya.
Satu buku dari seorang yang saya kenal, selesai. Saya coba baca buku dari pengarang lain yang kebetulan saya kenal. Bukan, ini bukan bermaksud menunjukkan punya banyak kenalan pengarang, karena seperti yang saya sampaikan, melihat atau ada di satu forum yang sama dengan seseorang juga bisa saya klaim sebagai bentuk perkenalan. Perkara setelah itu hanya saya yang mengaku kenal dan tidak resiprokal, itu soal lain yang tidak penting lagi.
Buku yang satu ini, rasanya lain. Beberapa hal tidak bisa saya sepakati, dengan tetap terkesan saya sedang berdiskusi dengan penulisnya. Situasi ini memunculkan pertanyaan yang masih saya cari jawabannya; apa yang saya rasakan waktu saya membaca karya-karya orang lain, baik yang saya kenal maupun tidak?; Apakah saya merasa sedang berdebat, bersiasat, atau tersenyum dengan banyak anggukan sebagai tanda sepakat?
Saya lupa, karena sudah lama tidak punya waktu untuk membaca. Barangkali mungkin baru hari ini, saya membaca dengan berkesadaran. Proses membaca yang lalu adalah jalan menggugurkan kewajiban studi, atau levelnya sekadar memetakan gaya menulis para tokoh untuk ditambal sulam sebagai gaya terkini; dulu, mentor saya mengajarkan demikian.
Sialnya, pertanyaan-pertanyaan tentang perasaan ketika membaca itu mengendap dan membuat saya harus mengingat. Waktu membaca jurnal atau tulisan akademik lainnya, saya akan termanggut-manggut dengan postulat para penulis idola; dosen yang cerdas, tulisannya di mana-mana, penelitiannya banyak, dan mengajar dengan meyakinkan. Saya jadi berkesimpulan, apa yang disampaikan oleh seorang idola, akan saya telan mentah-mentah. Tapi itu dulu, waktu masih lugu. Sekarang, belum baca jurnal lagi sih, tetapi yang jelas, sudah tidak mengidolakan siapapun, bismillah.
Coba kita rasakan lagi, apakah pengalaman membaca buku berikutnya masih hanyut dalam bayang-bayang penulisnya atau sebaliknya?
