
Hiruk-pikuk dunia yang sedang tidak baik-baik saja, menjadi latar cerita horor bagi manusia-manusia yang sedang berjibaku atas hidupnya. Bertahan dengan keterbatasan diri, tuntutan eksternal yang tidak tahu diri, hingga hal-hal di luar kendali, menjadi unsur horor dalam tiga belas cerita pendek yang ditulis oleh Ratri Ninditya dalam Hantu Ulang-alik. Entah disengaja atau tidak, tiga belas juga menjadi angka yang selama ini diasosiasikan sebagai angka terlarang. Lengkap sudah cerita-cerita gelap dan menakutkan dalam buku ini dijahit dengan rupa-rupa hantu, baik yang kasat mata maupun tidak. Buku ini membawa kita pada khasanah hantu yang lebih berbentuk dan dapat diakses oleh segala jenis manusia sepanjang hari.
Pada halaman awal, buku ini sudah sangat jelas ingin berkirim pesan pada semua yang sedang bertahan hidup di penghujung kiamat; sebuah masa yang selama ini dikonstruksi sebagai perjalanan akhir, atau lebih dekat dengan petaka. Masing-masing cerpen dalam buku ini ada petakanya sendiri. Ninin membungkus petaka itu dengan sentilan sarkas yang rapi dan apik. Kemarahan, dendam, kekecewaan disampaikan dengan halus, sehingga sebagai pembaca, saya cukup tidak terpicu atau lelah, tetapi justru tersenyum getir. Saya tersenyum karena pilihan diksi dan gaya penceritaannya tidak menguras energi, dan tetap merasakan kegetiran dengan konteks ceritanya.
Cara bertutur ringan, ngepop, dekat dengan orang-orang yang hidup di kota besar, tetapi bisa dinikmati lintas generasi, karena persoalan yang dihadirkan sangat interseksional. Saya melihat isu yang berat berhasil disampaikan dengan cara yang sederhana dan tidak dipaksa. Butuh kelihaian untuk meramunya, dan Ninin jagonya! Cerpen-cerpen di dalam buku ini juga selalu diakhiri dengan gaya yang unik, Ninin pandai membidik waktu dan alur yang tepat. Bahkan, ada dua cerpen yang ia tulis dengan gaya berbeda, yaitu “Cap Ular” dan “Menghilang”.
Sebagai buku cerita pendek serius namun tetap populer, berkali-kali Ninin peka terhadap perkembangan teknologi; jebakan algoritma, mendulang uang lewat TikTok, informasi bohong, hingga penyebaran konten intim non-konsensual menggunakan teknologi. Dalam cerpen “Panggung”, ia mengajak kita untuk melihat lebih dekat tentang tubuh manusia yang tidak benar-benar dimiliki secara utuh. Selain dikendalikan oleh pakem dan patron tertentu, tubuh juga dikendalikan oleh manusia-manusia lain melalui teknologi. Topik tentang ketubuhan dan seksualitas tidak hanya disampaikan dalam satu cerpen. Jangan sedih, tidak ada pembahasan yang sama, justru kita akan melihat betapa kompleks dan kayanya sudut pandang atas isu ini.
Menghabiskan buku ini adalah definisi membaca tulisan bagus!
Kekayaan sudut pandang dari setiap cerita yang disajikan pasti tidak datang dalam sekali duduk. Saya yakin kemampuan riset Ninin memiliki andil yang cukup besar. Kedekatan dunia Ninin juga barangkali tampak dari dua pembahasan tentang seni; tentang totebag bekas acara seni, dan skena seni rupa yang dekat dengan golongan orang-orang berlagak berbisnis dan berpolitik. Sentilan-sentilan ini akan kalian baca dengan sangat baik dan tidak terkesan tempelan isu. Sebagai contoh lain misalnya dalam cerpen “Anarkocheng”, konflik tentang agama, identitas gender, dan kapitalisme diolah dengan sangat lembut oleh Ninin.
Buku ini berhasil menyampaikan isu yang berat dengan cara yang ringan dan menyenangkan.
