Buku, Kedai Rasa

Dalam Dua Putaran Duka, Kehilangan Melampaui Kematian

Konon, buku akan bertemu dengan pembacanya di waktu yang tepat. Saya menamatkan buku ini dua kali dalam rentang waktu yang tidak dekat. Pertama kali membacanya sekitar pertengahan 2024, dan saya baca ulang pada Desember 2025. Ada peristiwa yang beririsan dari dua waktu tersebut. Buku ini pertama kali dibaca saat saya berniat meninggalkan pekerjaan saya sebelumnya, kemudian saya baca lagi, tepat saat saya kehilangan pekerjaan lainnya. Pertama kali membacanya, saya masih dalam masa berduka, kehilangan tiga orang yang saya cintai dalam waktu yang berdekatan. Ketiganya meninggal dunia, dan dua di antaranya pergi saat saya tidak memungkinkan untuk menyampaikan selamat tinggal. Kedua kalinya menamatkan buku ini, saya sedang merayakan duka yang lain. Kali ini bukan kematian, melainkan patah hati oleh hubungan pertemanan. Buku ini menghampiri saya di waktu yang tepat; satu putaran tahun dengan dua jenis duka dan kehilangan yang, beresonansi dalam satu buku dengan sampul tak mulus lagi.

Pertama kali membacanya, saya sedang menyukai warna ungu, sehingga garis-garis yang menandai nukilan-nukilan mantra di dalam buku ini pun warnanya ungu. Kali kedua, saya sedang membenci warna ungu, sehingga pena jingga menandai kalimat-kalimat lain yang terasa lebih kontekstual. Buku ini terhubung dengan pembacanya dalam berbagai konteks dan situasi, seperti yang penulis uraikan tentang fase merayakan duka; urutan dan waktu tempuhnya tidak sesederhana satu ditambah satu sama dengan dua. Saya yakin, pembaca lain di luar sana juga beresonansi dengan konteksnya masing-masing.

Dalam pengantar buku ini, Andreas menuliskan bahwa duka bisa terjadi ketika semesta mencabut paksa sesuatu yang kita letakkan dalam hati, sehingga meninggalkan kehampaan. Sebuah kehilangan atas sesuatu yang bermakna dalam hidup, yang termanifestasi dalam banyak rupa. Dalam konteks hidup saya adalah relasi antara manusia yang hilang karena mati atau sengaja disudahi karena perbedaan value atau nilai. Persoalan duka karena kematian yang saya alami berangsur mereda, sudah diterima dengan sesekali terpantik dan sedih, namun saya segera sadar untuk kembali berjalan; siasat yang terus saya latih. Persoalan duka yang disebabkan oleh hilangnya relasi pertemanan, cukup melalui jalan yang panjang untuk akhirnya bisa saya terima dengan riang gembira. Bukan berarti kematian lebih mudah diterima, ini hanyalah persoalan luka. Satu luka telah kering karena dirawat dengan baik, satu lainnya masih dalam proses perawatan karena goresannya masih cukup baru.

Hari ini, saya merayakan keduanya; kehilangan atas kematian, juga kehilangan relasi pertemanan. Keduanya melalui rasa sakit karena adanya cinta, berharga, dan perlu dilepaskan. Kini, piringnya sudah berbeda. Lagi-lagi saya ingin mengutip Andreas tentang merayakan. Kehilangan perlu dirayakan, karena momen, memori, dan segala yang hilang adalah penting. Perayaan itu sendiri menandai peristiwa penting. Kematian orang-orang yang saya cintai terus saya rayakan dengan merawat memori baik tentang dan bersama mereka, juga menjadi versi terbaik diri saya sebagai manusia, sebagaimana selama ini mereka ajarkan kepada saya. Merayakan kehilangan relasi pertemanan saya rayakan dengan meningkatkan kualitas hidup dan nilai yang saya yakini. Keduanya sama-sama saya rayakan, tetapi saya menempatkannya pada cawan yang berbeda. Relasi pertemanan yang sudah berakhir akan menjadi memori di masa lalu dan saat ini berjalan atas pilihan masing-masing. Sedangkan orang-orang yang pergi karena maut, mereka ada di masa lalu namun hidup di hati saya selamanya. 

Terima kasih pernah hadir dalam kisah hidup kami… sisa-sisa perasaan, kenangan, harapan. Sadari bahwa semua itu lokasinya sudah tidak di piringmu lagi” – Andreas dalam bab Tutorial Mencuci Piring

Seiring berjalannya waktu, pertemanan kita juga berkembang. Buku ini mengingatkan saya pada salah satu sesi konseling, yang persis membahas pertemanan dan value diri. Setidaknya satu tahun terakhir, saya berefleksi; menyambut yang datang hari ini dan merelakan yang pergi.

Yang membuat kita dekat dengan seseorang adalah adanya kesamaan value atau nilai. Seiring dengan berkembangnya dunia kita, value kita meluas.” dituliskan oleh Andreas pada halaman 166. 

Tiga Pria dalam Dua Putaran Duka

Menuntaskan buku ini dua putaran, mengajak saya melihat lagi koneksi diri yang selama ini dibantu oleh psikolog profesional, berlatih melalui lirik dan musik, juga membaca. Beberapa bagian dari buku ini ternyata telah menjadi topik obrolan saya dengan psikolog di beberapa sesi konseling; tentang memperluas wadah alih-alih mengecilkan duka; menceritakan berulang sebagai sebuah ritual; tentang apa yang kita lakukan selama waktu berjalan untuk menyembuhkan; dan ajakan untuk memulai dari yang paling mudah. 

Saya percaya, ini bukan sebuah kebetulan. Seperti pernyataan “bukan waktu yang menyembuhkan, tetapi apa yang kita lakukan bersama waktu”, semesta juga memberi jalan dari segala upaya kita untuk sembuh atau pulih. Kali kedua saat membaca buku ini, saya sedang merencanakan sebuah mini riset tentang Kunto Aji (semoga tidak berhenti menjadi keinginan belaka), yang pada saat membaca pertama kalinya, bahkan saya belum mendengarkan lagu-lagunya. Kini, lirik, musik, dan sajiannya membuat saya kepincut dan menguatkan. Kali kedua membaca buku ini, saya baru menyadari bahwa potongan lirik dari tiga judul lagu Kunto Aji beresonansi dalam beberapa bagian buku ini.

Setidaknya setelah membaca buku ini, dalam dua putaran duka, saya ditemani oleh mantra-mantra dari tiga pria; psikolog saya (Pak Tri), Kunto Aji melalui lirik, musik dan pertunjukannya, dan Andreas melalui buku ini.

Buku ini bukan sekadar soal kematian, karena kehilangan dan duka bisa dimaknai dengan lebih kompleks.