“Mari merayakan kehilangan itu!” Seruku pada diri sendiri
Setelah beberapa waktu memproses sedih, kecewa, marah, juga bingung, hari ini aku sudah memutuskan untuk menerima kehilangan. Bukan, ini bukan soal kematian. Ini hanya perkara hubungan antar manusia yang perlu disudahi, apapun bentuk relasinya, kebetulan saja pertemanan. Menghapusnya dari jejak masa lalu adalah percuma. Tetapi, melangkah tegak menyambut yang baru, hal yang kurasa perlu, meski tampaknya tidak mudah. Aku percaya, selalu ada tunas baru dari setiap ranting yang patah.
Terpaksa harus aku akui bahwa tahun ini menjadi patah hati terberat, seingatku begitu. Aku yang pergi, aku juga yang menanggung kehilangan itu, setidaknya inilah hal yang membuatku sulit mengelola pilu, sejak tahun lalu. Pergi meninggalkan ekspektasi, menakar porsi ruang yang akan dibuka lagi untuk kebaikan yang lain, sekaligus meyakinkan diri untuk terus percaya pada kebaikan; yang tulus dari hati, tanpa tapi. Meski sulit! Jika hari ini aku semakin berburuk sangka pada satu dan lain hal, sementara akan aku biarkan, sampai ada titik yang mampu memberiku alasan bahwa perasaan ini salah.
Hari ini, aku merayakan perjalanan baru sebagai diri sendiri. Kusambut diriku tanpa khawatir harus menjadi bagian dari label tertentu; yang bebas dan berjalan dengan peta kompasku sendiri; terbuka pada ikatan pertemanan yang apa adanya, bukan kedekatan yang dibangun karena orang-orang besar dan ruang-ruang tumbuh di sekitarku. Mari berteman karena aku Eni, bukan karena aku teman siapa atau aku bekerja di mana. Tidak ada relasi transaksional dalam pertemanan. Mari bekerja dengan lebih profesional.
Hidup itu paradoks dan bertumbuh. Tidak ada yang selamanya, karena semua akan menemukan masanya. Begitu juga pertemanan; ada perjumpaan dan perpisahan; mulai dan sudah. Semua berjalan karena masing-masing dari kita terus bertumbuh dan terus mempertanyakan, mana yang pantas, baik, nyaman, dan aman untuk satu sama lain. Tidak perlu disesalkan jika memang harus berakhir, juga tidak perlu diupayakan jika masanya hanya sampai hari ini. Aku juga percaya, yang hari ini dimulai pun, kelak akan berakhir, apapun alasan dan caranya.
Yang patah, ya sudah. Mari berlari lebih kencang, lebih jauh, dengan jalan kita masing-masing. Hari ini, aku bukan mengutuk yang membuatku patah, aku justru sedang merayakannya, karena dengan patah, langkahku semakin kuat. Terima kasih kepada yang telah memberiku patah, yang datang diam-diam, juga yang memberi hangat. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini.
