Tengah malam, tetiba saya baca sebuah cuitan dari akun Kunto Aji di platform X:
”woman support woman berdasarkan pengalaman hidup kalian. Lebih sering terjadi atau sebaliknya?”
Berbagai respons bermunculan, setidaknya, ada 45 umpan balik yang saya baca. Tentu saja, namanya pengalaman orang pasti beragam, tergantung dengan siapa mereka tumbuh, atau seberapa mujur hidup mereka hingga dikelilingi banyak dukungan dari berbagai penjuru. Semua respons itu valid sekaligus menggelitik memori saya untuk turut melihat kembali trajektori istilah woman support woman tumbuh, menggeliat, membara, dan akhirnya membakar diri saya sendiri lalu mati, setidaknya begitulah alurnya sampai detik ini.
Membaca cuitan tersebut, saya berjalan mundur, menyambangi diri saya lima belas tahun lalu. Seolah-olah saya sedang mendengarkan seorang remaja yang berapi-api, membangun mimpi tentang solidaritas, optimisme lahir bersamaan dengan skeptis akut tentang dunia di masa depan. Harapan saling bertaut antar perempuan untuk menambal sulam energi dan sumber daya, perlahan menjadi nilai yang diyakini dan idealisme paten.
Lima belas tahun lalu, remaja perempuan ini sangat lugas. Saya ingat betul pergaulannya, upaya baiknya, etos kerja dan kepercayaan yang sepenuhnya ia manifestasikan dalam banyak laku, yang orang sebut hari ini sebagai aktivisme. Lima belas tahun kemudian, tegas dan lugas menjadi pegas, cerah menjadi abu, yang tampak jelas adalah ragu, patah, dan kabur.
Remaja perempuan itu, kini hidup sebagai orang dewasa dengan segala persoalan di persimpangan. Entah harus disayangkan atau petanda baik, tidak ada sedikitpun energi ingin ia bagi untuk apapun bentuk aktivisme. Ia tidak lagi percaya pada saling jaga, karena baginya tidak ada kesakitan dalam ketersalingan. Belakangan ia sering mual melihat ragam bentuk ambisi atas nama feminisme. Sayang sekali, istilah itu mengalami peyorasi.
Berbagai istilah yang pernah tumbuh, kini mati. Saya percaya, perjalanan selalu menjadi sebuah mula, meski tidak akan kembali seperti semula.
