Malam itu, lagu Indonesia Raya terasa sangat pilu buat saya; gajah-gajah meregang nyawa setelah kehilangan rumah; pohon besar hijau dipaksa berganti peran; saudara, kawan, dan kerabat mengungsi dengan nasib tak pasti, sedangkan visual indah dan musik megah mengajak kita mensyukuri kekayaan Indonesia. Hari ini, lanskap hijau dan keanekaragaman hayati itu menjadi semakin tragis ketika batang-batang pohon besar kehilangan akar, tanaman buah dan sayur tidak lagi panen teratur, karena kemarau tiba-tiba disalip hujan. Betapa alam sudah lelah, hingga jembatan kehilangan daya untuk menahan arus yang tidak wajar. Hijau kini menjadi coklat, bercorak, tandus, dan rusak oleh manusia-manusia tamak.
Lagu Indonesia Raya satu stanza, malam itu dinyanyikan bersama sebagai salah satu rangkaian acara bertajuk kewarasan. Saya bukan tamu ataupun penyelenggara, melainkan sekadar datang untuk menikmati sajian musik setelah penutupan. Datang lebih awal, membuat saya mengamati sebentar rangkaian acara. Bukan, saya tidak hendak memberikan kritik atas penyelenggaraan acara. Lebih dari itu, saya sedang berefleksi, betapa waras dimaknai dengan sangat luas, atau justru sempit?
Anggap saja saya sedang belanja makna waras. Sebagai pekerja lepas yang tinggal di daerah rural dengan balok di pundak yang kadang-kadang membuat sesak, makna waras tentu saja bukan vakansi berbiaya tinggi, yoga, atau meditasi. Tidur cukup tanpa dihantui bayang-bayang tagihan pekerjaan di luar kontrak, barangkali adalah bentuk waras buat saya dan sebagian pekerja lepas lainnya. Bengong di pinggir pantai, jalan kaki, bersepeda, dan bentuk lain yang bahkan tidak terbayangkan oleh saya, barangkali menjadi cara untuk mencapai waras bagi sebagian orang lain; cara-cara yang secara ekonomi tidak perlu diupayakan dengan keras.
Kesadaran tentang kewarasan tentu saja disambut baik, karena kita tidak lagi anti dengan kondisi jiwa yang membutuhkan dukungan dan pertolongan, meski perlu diakui bahwa masih banyak juga pihak-pihak yang belum terakses informasi mengenai hal ini. Pun sialnya, industri membaca kesadaran masyarakat akan pentingnya dukungan psikososial sebagai bentuk strategi komodifikasi.
Waras juga hanya dimaknai satu pihak, yaitu untuk manusia. Kita menjejak tanah, tetapi tidak pernah memikirkan bagaimana tanah juga perlu istirahat. Kita menginginkan udara bersih untuk yoga, misalnya, tetapi kita lupa bagaimana mengupayakan agar udara bisa tetap bersih. Kita butuh ketenangan dengan duduk diam di pinggir pantai, tetapi lupa bahwa laut juga butuh istirahat dari polusi kapal-kapal dan racun-racun yang mencemarinya. Kita lupa, bahwa alam punya siklus kehidupan. Menuntut terlalu banyak tanpa memberikan ia jeda untuk beristirahat sama halnya kita mengabaikan kewarasan alam.
Lirik lagu Indonesia Raya yang penuh harapan dan doa baik bagi kewarasan semua makhluk, semoga dapat dihayati, bukan hanya seremoni setiap jam sepuluh pagi.
Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya,
Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.
