Memori, Sampai Nanti

Kita Punya Pilihan

Minggu lalu adalah janji temu kedua puluh dengan terapis. Panjang juga, ya, perjalanan dengan diri sendiri. Cara untuk mencintai diri sendiri, katanya bisa dimulai dengan menerima dan berteman dengan apa adanya kita.

Kali ini aku ingin menyudahi rasa sakit, yang kupikir sudah selesai, ternyata makin membesar setelah dipantik sedikit api. Ya, rasa sakit yang akan menyulitkan diri, sedih berhari-hari, bahkan membuatku hampir tidak berfungsi. 

Aku ingin berjalan dengan tegak, menghilangkan semua rasa sakit, dan fokus pada masa depan.

Ternyata, semua perasaan itu tidak bisa serta merta dihilangkan, tetapi kita punya pilihan untuk memprosesnya. Manusia cenderung memilih langkah yang cepat, mudah dilakukan, dan tidak memerlukan banyak usaha untuk memprosesnya. Beruntung sekali, Pak Tri memanduku untuk berlatih dengan langkah-langkah yang lebih menenangkan. 

Setelah mengidentifikasi kategori situasinya bersama-sama, ia memintaku membayangkan hal-hal di masa depan; di mana aku sudah berjalan dengan tegak, melaju tanpa terganggu masa lalu, bertaut dengan ruang dan orang yang tepat, bahkan bergelut dengan hal-hal yang aku inginkan. Betul, rasanya lebih tenang dan menyenangkan. 

Ia pun memintaku untuk membayangkan bagaimana rasanya jika aku memaki. Tentu saja, perasaan sedih semakin pekat, bahkan ketika sudah berhenti memaki. 

Memilih satu di antara keduanya juga perlu kesadaran dari dalam diri, bukan pengaruh dari orang lain. Dan aku memilih untuk melaju, menjemput banyak hal baik yang sudah aku rencanakan, tanpa menghiraukan masa lalu yang pernah mengganggu. Apapun relasinya, aku memilih untuk berjalan dengan segala yang baru di depan mata. 

Selamat datang, lembaran baru!