Teruntuk Vivi,
pembawa berita baik yang membuatku kehilangan kosakata untuk menamai perasaan yang timbul, terutama hari ini. Apakah aku harus menamainya sedih, karena akan kehilangan salah satu sahabat terbaik (jika boleh mendaku). Namun, bukankah kita akan tetap terus terhubung meski perjumpaan menjadi tidak lebih mudah untuk ditempuh? Toh selama ini, perjumpaan lebih banyak terjadi tanpa tatap muka. Apakah tepat jika aku menamainya dengan haru, karena rasa bangga yang tidak terhingga. Tampaknya lebih dari senang, akhirnya kamu menemukan sepotong keju itu!
Enam bulan lalu, istilah keju itu menutup perjumpaan terakhir kita di Jakarta, sebelum akhirnya aku bertolak ke Jogja. Aku paham betul, itu caramu membangkitkanku dari rasa terpuruk. Hingga akhirnya, istilah itu selalu kita sematkan dalam banyak obrolan. Kamu selalu punya cara menakjubkan, yang tulus dan tidak tendensius.

Sepotong keju itu Beijing! Mungkin kamu akan menemukan banyak nama keju lain setelah ini. Beri tahu aku bagaimana rasa dan cara mencecapnya, ya. Besok, lusa, jika tiba waktunya, kita bertukar cerita juga tentang sepotong keju lain yang aku dan Cindy dapatkan.
Terima kasih telah menjadi Vivi yang sangat baik; yang mendengarkan tanpa menghakimi; yang rela berbagi energi meski ia sedang berjibaku mengelola energinya sendiri; yang selalu menguatkan dengan tetap mengakui bahwa kita punya kelemahan; dan yang tidak pernah menyerah. Selamat menempuh perjalanan baru, yang membuatmu menjadi terus tumbuh dan bernilai.
