Tragedi manusia dalam mencapai kebertuhanan membuat sebagian dari mereka menjadi agen normalisasi kekerasan. Segala tingkah laku dan lisannya memberi kesan bahwa beragama itu sederhana, sesederhana sarapan sandwich maka kau akan naik strata sosialnya. Padahal roti yang kau makan adalah pemberian majikan ibumu, karena sudah hampir mencapai masa kadaluwarsa. Pun hari-hari biasa setelahnya kau kembali memulai aktivitas tanpa sarapan. Hmm karena sepotong roti pun kau tak mampu membeli, apalagi hari ini harga daging naik tinggi. Kau hanya akan berkelindan dengan kebohongan, membohongi diri sendiri untuk sebuah pengakuan dari tetangga dan kawan sepermainanmu.
Beragama itu sederhana. Pakailah jilbab dan rajinlah pergi ke surau mengikuti pengajian akbar. Entahlah, bahwa pada kenyataannya ketika seorang penceramah sedang memberikan kajian, kau malah asik bergunjing dengan lawan bicaramu. Kau membicarakan seorang berkacamata yang tetiba mengunjungi surau setelah lama ia tak tampak. Sebentar-sebentar kau melirik seorang gadis yang bergincu merah merona, yang duduk berseberangan dengan tempat dudukmu saat itu. Beragama itu sederhana. Becakaplah dengan dalil dan ayat. Maka sebentar lagi gelarmu akan bertambah menjadi ustad atau ustadzah. Sebentar lagi pula kau akan bertandang ke berbagai acara syukuran untuk memberikan wejangan. Kau semakin tenar, padahal belum tentu semua yang kau bagikan juga kau amalkan. Hmm.. atau kau sedang sibuk mencari materi ceramah, sedang dirimu sendiri lupa berbenah?
Kebertuhanan bukan sekadar yang tampak di depan mata. Tapi bagaimana hatimu mampu bicara.
***
Lalu, ketika orang bertanya,”Islammu apa?”
Pertanyaan itu mungkin muncul ketika seorang muslim menemukan perbedaan antara ajaran dan perilakunya dengan seorang muslim lainnya. Lantas perbedaan itu menjadi alat untuk memprimordialkan golongan dalam satu tubuh agama. Apakah Islam demikian? lantas kita harus memilih untuk menjadi Islam yang seperti apa? ketika mereka memiliki laku atas nama benderanya masing-masing dan mengeksklusifkan diri, bukankah itu hanya akan menghapus nilai-nilai tolerasi? Bukankah ketika mereka kalut dengan permasalahan mereka sendiri (yang seharusnya tak perlu dipermasalahkan), itu artinya mereka membuka kesempatan kepada orang lain untuk menggencarkan Islamophobia? Pertanyaan itu muncul begitu saja, dan saya tak ingin menjawabnya agar tidak terjadi penyimpulan yang tak adil. Kadang kita harus percaya dengan sinkretisme, di mana segala hal yang kita lakukan bukanlah murni bersumber dari satu agama.
***
Proses mencapai kebertuhanan kadang melewati fase menyesatkan. Bukan penyesatan dari sumber agamanya, melainkan dari nalar personalnya. Saya sepakat dengan tulisan Ayu Utami, bahwa ada tiga fase yang bisa dilalui oleh manusia diantaranya; religiusitas, sekulerisme, dan pasca-sekulerisme. Namun, bagi saya tidak semua orang melalui tiga fase tersebut. Pun bagi saya, dalam masing-masing fase selalu ada waktu manusia untuk tersesat. – atau malah akan selalu tersesat? Haha entahlah! Seberapa jauh kita berpikir dan seberapa dekat kita akan bertindak tentu tak lepas dari hati nurani dan akal budi. Segalanya untuk menimbang baik dan buruk, untuk sebuah pencapaian yang jernih (tanpa membenci institusi agama). Sekalipun beberapa saat kita membenci institusi agama, sadarlah bahwa hal itu bermula dari institusi masyarakat yang ingin tampak bertuhan dengan cara yang salah.
