Tanah mereka kembali gersang. Jiwa mereka kecut untuk bergerak dan berbenah. Bumi tak lagi berpihak, mereka pun urung mencari suaka untuk berpijak. Pasukan loreng terus saja bekerja atas nama negara. Kadang menampakkan rupa, sering pula meminjam topeng tetangga. Aku tahu, aku melihat, aku mendengar, tapi aku harus tetap berkelindan dengan rasa meski pada akhirnya hanya menjadi beban yang menyesakkan. Tanah ini gersang, tanpa pekikan lantang seorang pemuda dari tanah seberang yang mengawal kampung mereka dari pelacuran pegawai bangsa. Tanah ini akan semakin gersang jika dikawal pasukan negara yang suka perang.
***
Malam itu dia duduk seorang diri di kedai kopi milik Kang Badrun. Sesekali diseruputnya secangkir kopi panas nan pahit. Satu batang, dua batang, lima batang….. ah aku tak dapat menghitung sudah berapa batang kretek dia bakar. Rupanya dia tak menghiraukan tubuhnya. Barangkali dia akan cepat mati dengan paru yang rusak, bukan karena luka tembak.
Aku tak paham dia lelaki dari tanah mana. Sejak enam hari yang lalu, saat pertama aku menginjakkan kaki di tanah ini, nampaknya dia sudah menjadi pelanggan kedai Kang Badrun. Aku juga tak tau dia orang baik atau tidak. Badannya kekar, pendangannya tajam, tapi parasnya nampak suku jawa. Dia juga tak banyak cakap. Banyak lelaki serupa dengannya yang datang berbondong-bondong ke kedai Kang Badrun lepas Isya’. Sekedar menghangatkan tubuh dengan jahe tumbuk atau menahan kantuk dengan secangkir kopi, tempat ini selalu riuh hingga dini hari. Tapi aneh sekali dengan lelaki itu. Tak pernah dia membaur. Hanya sesekali dia bercakap dengan Kang Badrun, itu pun saat Kang Badrun tidak sibuk melayani pembeli.
“Ini mie rebusnya. Lekaslah makan sebelum dingin. Hari juga semakin petang. Tak baik anak gadis ke luar rumah malam-malam begini”. Tiba-tiba Kang Badrun datang dengan sapaan khasnya. Sambil menghantarkan makanannya, dia selalu mengingatkan pesan itu padaku.
***
Aku punya perasaan baru. Lelaki itu membuatku mual, ingin membuang semua isi perutku. Terkadang aku ingin mencabik, merobek mukanya, memotong-motong tubuhnya, dan membuang jasadnya ke sungai. Saat Kang Badrun sedang pergi ke pasar, kadang-kadang aku ingin mencampur bubuk kopi yang biasa diminumnya dengan racun. Kemudian aku membayangkan dia akan meminumnya setelah bangun. Dia akan muntah darah, terkapar, ku buang ke hutan, dan tubuhnya dirobek-robek binatang buas.
Begitulah perasaan yang kemudian muncul setiap aku bertemu dengan lelaki itu. Padahal lelaki itu belum pernah aku kenal sebelumnya. Tapi dari parasnya, sepertinya dia sama-sama pendatang di tanah ini. Di tanah penuh gejolak ini, status kami mungkin sama.
Aku tidak akan lama tinggal di sini, meski sampai beberapa waktu ke depan yang belum ditentukan. Aku menggantikan tugas temanku dari tanah seberang untuk menemani petani sawit. Pun lelaki itu? aku juga tak tahu. Tapi acapkali aku melihatnya berkeliling kebun sawit. Aku rasa dia juga bukan pemilik kebun itu, karena dia tak ada dalam daftar warga yang harus ku temani.
Tak ku lihat juga satu pun warga menyapanya saat dia menyambangi kebun. Tak ada yang menawari dia minum atau pun makan siang saat ku dapati dia berjalan di bawah terik, dan warga sedang rehat. Begitupula sebaliknya. Sama sekali aku tak pernah mendengar cakapnya dengan warga. Dia hanya berjalan tegap menyisir jalan setapak tanpa sapa. Saat itu aku mulai semakin mual. Aku berharap ada lubang jebakan dalam jalan setapak yang ia lewati, kemudian dia akan terperangkap, dan tercebur dalam lubang yang berisi ratusan ular berbisa.
***
Hari ini aku belum sempat mampir di kedai Kang Badrun. Rasanya ingin segera memesan semangkuk mie rebus panas dan menyeruput kuah pedasnya. Racikan bumbu Kang Badrun memang tak ada duanya di kampung ini. Aku bergegas menuju kedainya. Aku pun berencana untuk menghabiskan malam ini di sana. Tak akan ku hiraukan cakap Kang Badrun jika ia menyuruhku segera pulang karena hari semakin petang.
Tetiba ku lihat empat pemuda asing berjalan menuju kedai Kang Badrun. Entahlah, apakah mereka orang baru di kampung ini, atau penduduk lama yang belum sempat ku kenal. Parasnya juga nampak seperti pendatang. Tapi sepertinya dia ramah. Ah sudahlah. Tak ku teruskan membaca tabiat mereka. Anggap saja mereka pelanggan Kang Badrun yang belum pernah ku lihat.
Kang Badrun nampak lebih sumringah menyambut kedatangan mereka. Dengan segera ia membuatkan pesanan pemuda asing dan kawan-kawannya. Ku lihat Kang Badrun juga hanya menyajikan empat cangkir kopi. Mereka tak memesan makanan. Lantas kenapa Kang Badrun menyambutnya dengan sangat gembira? Ku kira kegembiraan Kang Badrun hanya sebatas keuntungan dari panganan yang ia jajakan.
“Mie rebus biasanya ya, Kang!” sapaku di depan kedai sambil membelalakan mata mencari meja kosong.
“Mangkuk warna ungu, cabe rawit tujuh, dan dua butir telur ayam kampung? hahaha” Kang Badrun mempertegas
“Sudah langganan rupanya?” tetiba pemuda itu menyapa.
“Ah tidak. Belum ada dua minggu di kampung ini. kau sendiri?”
“sekitar dua tahun yang lalu. Aku tinggal di ujung kebun sawit. Mainlah kalau kau ada waktu. Ada banyak kawan kami di sana”.
“Oh baiklah”.
Kemudian aku bergegas menuju sudut kedai Kang Badrun.
Sambil menunggu mie rebus yang sedang disiapkan oleh Kang Badrun, aku memperhatikan pemuda itu. Entahlah, aku merasa tidak asing. Nampaknya dia pemuda baik. Tubuhku dingin. Aku menggigil. Aliran darahku seperti hendak berhenti. Tapi tetiba dadaku berdebar. Sesaat aku merasa bakal ada keriangan. Melihat pemuda itu tidak membuat perutku mual dan ingin minum darah. Tidak lagi ada rasa ingin mencabik, merobek, dan memotong-motong tubuhnya. Berbeda ketika aku bertemu dengan lelaki tempo hari.
“Ini mie rebusnya. Lekaslah makan sebelum dingin. Hari juga semakin petang. Tak baik anak gadis ke luar rumah malam-malam begini”. Kang Badrun datang dengan aroma sedap mie rebusnya.
“sudahlah, Kang. Berhentilah bercakap menyuruhku pulang. Kau tak suka melihatku di sini?”
“Aduh bukan begitu. Aku khawatir karena kau perempuan. Kampung ini tidak seramah kampungmu. Nyawamu bisa saja habis di tengah kebun sawit itu. Kecuali kalau kau pulang bersama sekawanan pemuda itu. Sepertinya itu akan lebih aman.” pesan Kang Badrun sambil meledek.
“oh. Memangnya dia siapa?” tanyaku santai sambil menyeruput kuah pedas spesial.
“Aiiih…pemuda itu orang baik. Dua tahun lalu dia datang dari tanah seberang hanya untuk menemani para petani sawit di sini. Dia juga tidak kami bayar.” Kang Badrun bercerita dengan nada setengaah berbisik.
“Dia tentara?”
“Ah bukan.. bukan tentara. Dia orang biasa macam saya. Tapi dia sangat khawatir pada warga kampung sini. Warga kampung sangat mengandalkan pemuda itu untuk keberlangsungan hidup anak cucu mereka kelak.”
“maksud Kang Badar? Aku semakin tak paham”
“iya, kau kan tahu sendiri kalau lahan sawit ini akan dibangun gedung besar. Ah aku tak paham lah gedung apa itu. orang-orang ribut tak mau diganti rugi, karena hanya dengan kebun ini mereka menggantungkan hidupnya. Kalau uang mah bisa habis dengan sekejap.”
“oh”
“nah pemuda itulah yang selama ini menemani warga agar kebun sawit ini batal dijadikan gedung besar. Aaaa sudah sudah. Nanti kita bercakap lagi. Saya bikinkan kau minuman dulu. Nanti macet tenggorokan kau menelan mie rebus itu.”
Percakapan kami terputus begitu saja. Setelah membuatkan segelas jahe tumbuk, pembeli berdatangan silih berganti. Kang Badrun sibuk menyiapkan dagangannya seorang diri. Sepertinya ku lihat dia sangat senang hari ini melihat pemuda itu. Dia juga nampak ingin bercerita banyak tentang pemuda itu padaku. Tapi apa daya, kalau dia bercakap terus denganku, bisa-bisa pelanggannya enggan untuk mampir kembali.
***
Belakangan, aku semakin jarang bertemu dengan pemuda itu di kedai Kang Badrun. biasanya, dia akan bercakap banyak dengan teman-temannya soal kondisi pemilik kebun sawit di kampung ini. Tak jarang mereka kerap berbisik seperti membicarakan sebuah strategi, pun kemudian mereka terbahak bersama. Aku juga jarang melihatnya di tempat tinggalnya, di ujung kebun sawit. Aku merasa aneh, merasa kehilangan rasa yang mendebarkan dada, rasa yang menghilangkan mual di perutku, dan melupakanku akan pertumpahan darah yang selalu datang ketika aku bertemu dengan seorang lelaki lain.
Lelaki yang selalu ku lihat di kedai Kang Badrun, sebelum akhirnya aku bertemu dengan pemuda itu, kini muncul kembali. Sudah beberapa hari dia tak menampakkan diri. Di Kedai Kang Badrun, aku hanya melihat pemuda dari tanah seberang dan kawan-kawannya. Sedangkan saat ini, situasi berbalik secara tiba-tiba. Pemuda itu tetiba tak nampak. Lagi-lagi aku harus melihat lelaki berbadan kekar, pendangannya tajam, tapi parasnya nampak suku jawa.
Perutku mual, aku ingin mencabik, merobek mukanya, memotong-motong tubuhnya, dan membuang jasadnya ke sungai. Tetiba semangkuk mie rebus yang baru saja ku lahap keluar dari perutku. Aku memuntahkan semua isi perutku.
***
Dini hari menjelang pagi. Udara dingin menembus jaket kulitku hingga ke sumsum tulang. Suasana begitu sunyi. Kedai Kang Badrun nampak sepi tidak seperti biasanya. Hanya tersisa aku dan Kang Badrun. Ah suasana ini mengingatkanku pada kampung halaman seminggu yang lalu. Pagi begini aku masih terlelap. Tetiba ponselku berdering, mengabarkan seorang kawan terbunuh, ditusuk oleh orang tak dikenal. Sebuah bayonet menancap di bahunya hingga tembus ke depan dan merobek parunya. Tidak bertahan lama, akhirnya dia pun meninggal dunia.
Penusukan itu bermula dari adu mulut antara kawanku dengan beberapa tentara di sekitar lokasi. Tetiba mereka mengusir kawanku yang sedang duduk minum kopi. Diduga, pasukan tentara sengaja memancing masalah karena menyimpan benci pada kawanku atas kasus yang sedang digarapnya. Ditempeleng, dihajar, diinjak-injak, dan akhirnya ditusuk dari belakang. Kawanku adalah aktivis lingkungan yang sedang membersamai petani sawit untuk menyuarakan haknya dari penindasan penguasa. Beberapa kawan dekatnya masih mengusut pembunuhan ini, tidak terima dengan pasukan ketahanan negara yang mengencingi mimpi anak bangsanya sendiri.
“Kau tinggal saja dulu di sini. Jangan pulang sebelum pagi.” Kang Badrun tetiba memecah kesunyian. Dia melarangku untuk segera bergegas.
Aku pun mengangguk. Kang Badrun mengajakku bercakap soal pelanggannya satu per satu. Tentu saja dia juga menceritakan soal lelaki berbadan kekar dan berparas jawa yang sering ku lihat duduk menyendiri di kedai ini. Agaknya dia sudah agak lama tinggal di sini, sampai Kang Badrun mengenal dekat tabiatnya.
“Dia itu tentara, pasukan ketahanan negara. Setahun terakhir dia ditugaskan di kampung ini untuk memantau para aktivis kebun sawit. Kau ingat kan aku pernah bercakap soal kebun sawit yang akan dibangun gedung besar?”
“Iya, Kang.”
“Dia itu pendiam, tak banyak bercakap dengan orang. Tapi kalau denganku, dia sering bercakap, saat pagi-pagi seperti ini, waktu pelanggan sudah pada pulang.”
“oh”
“Dia itu orang besar. Pangkatnya tinggi. Dulu dia disegani oleh kawanan sesama tentara. Dia bekerja ganda. Sebagai tentara yang akan menembak musuh di medan perang, dia bilang itu mengabdi. Tapi dia juga menjadi pembunuh bayaran di beberapa kota besar. Sama seperti kasus sawit ini. Beberapa waktu lalu, di kota sana, dia baru saja menusuk aktivis para petani sawit kampung ini.”
“Sudah berapa orang mati di tangannya?”
“Aku tak tahu.”
“oh”
“Tapi namanya bersih. Tak ada orang yang tahu kalau dia habis membunuh orang. Itu hanya rahasia antara lelaki itu dan orang yang membayarnya. Kau tahu, kalau yang membayarnya adalah orang-orang pemilik proyek gedung besar ini. Aku sempat kaget, tapi aku juga tak bisa bergerak banyak. Aku tak punya lahan sawit di sini. Aku pendatang pula”.
“oh”
“Kau masih ingat kemarin aku sempat bercakap soal pemuda baik dari tanah seberang? Kawannya habis mati di tangan lelaki itu saat dia sedang berada di kota. Katanya sih sedang ngopi pula. Tapi orang lainlah yang tertangkap sebagai pembunuhnya. Orang macam lelaki itu yang pangkatnya lebih rendah yang terkena getahnya. Ah aku tak tau, dia terkena getah atau sengaja dipinjam parasnya oleh lelaki itu.”
***
Kini aku merasa ada di antara ruang bayang dan ruang nyata. Termasuk pada peristiwa seminggu yang lalu, yang menimpa kawanku. Apakah ini nyata atau sesungguhnya tak nyata? Aku ragu apakah ini sebuah kenyataan antara kawanku yang telah terbunuh dengan pembunuh bayaran dari seorang investor, dan dilakukan oleh pasukan ketahanan negara, atau? Sejarah pahit yang baru saja berlalu.
***
Tanah mereka kembali gersang. Jiwa mereka kecut untuk bergerak dan berbenah. Bumi tak lagi berpihak, mereka pun urung mencari suaka untuk berpijak. Pasukan loreng terus saja bekerja atas nama negara. Kadang menampakkan rupa, sering pula meminjam topeng tetangga. Aku tahu, aku melihat, aku mendengar, tapi aku harus tetap berkelindan dengan rasa meski pada akhirnya hanya menjadi beban yang menyesakkan. Tanah ini gersang, tanpa pekikan lantang seorang pemuda dari tanah seberang yang mengawal kampung mereka dari pelacuran pegawai bangsa. Tanah ini akan semakin gersang jika dikawal pasukan negara yang suka perang.
***
Nomine Lomba Menulis Cerpen Balai Bahasa Yogyakarta 2015
Kalibata, 23 Mei 2015
