Tumblr

Untuk Seorang Kawan

Kita sudah bersepakat untuk diam. Kita sudah lama bungkam. Bodoh menurut banyak
orang tak jadi soal, asal masih ada sisa waktumu untuk membersamaiku.

Banyak hal yang telah kita sepakati. Tak ada satupun manusia yang paham tentang kita
dan kesepakatan-kesepakatan itu. Pun aku akan membiarkannya diam, hingga suatu
saat kita akan membicarakannya ulang.

Tak ada satupun yang tercatat. Kita bersepakat untuk saling mengingat, bukan
mengingatkan. Jikapun lupa, mungkin sudah masanya kita harus melupakannya.
Tapi jika tetiba kau datang dengan ingatan-ingatan rahasia kita, bukanlah masalah
besar. Sekarang, nanti, lusa, atau kapanpun, kau tetaplah menjadi teman curah
gagasan paling hebat yang pernah aku kenal.

Banyak orang gelisah tentang hubungan kita. seorang kawanmu sempat menyimpan cemburu
padaku. Tapi kita sama-sama tahu. Kau dan aku tak akan pernah ada dalam ikatan
perkawinan. Meski kau laki-laki, dan aku perempuan, kita sudah mempunyai jalan
masing-masing, Bukan? Dan kita hanya terbahak ketika ada perempuan lain
tertarik denganmu.

Kawan, tetiba aku ingin bicara. Aku rindu duduk dan bercakap denganmu. Aku rindu
meghabiskan malam dengan perdebatan keras tentang hal yang belum terlalu aku
pahami. Pun aku akan selalu merindukan cacianmu atas beragam mimpiku.

Kawan, aku sedang menulis surat untukmu, di sebuah kafe kecil, di meja yang selalu
kita pesan berdua. Surat ini akan aku simpan, dan akan aku berikan saat kita
bertemu nanti. Aku pun berharap, kau masih ingat dengan kesepakatan-kesepakatan
kita dulu. Dan saat kau membacanya nanti, mungkin kau akan terbahak seorang
diri, sedang aku hanya diam.

Aku sedang menulis tentang hukuman atas canda kita yang kelewatan. Saat aku
menuliskan surat ini, aku merasa ada di posisi perempuan-perempuan yang pernah
kita tertawakan dulu. Tempo hari aku bertemu dengan seorang ahli atas hal yang
kita sepakati. Dia bilang, kamu adalah makhluk paling kasihan, karena hanya
akan bersembunyi dengan ketakutan dan selamanya akan berkelindan dengan
kebohongan. Tapi kemudian aku berpikir, bahwa akulah makhluk yang paling
kasihan, bahkan lebih sengsara daripada perempuan-perempuan yang pernah kita
tertawakan dulu. Kawan, aku lebih paham daripada mereka, aku lebih tahu, dan
aku rindu.

Jogja, 21 Agustus 2015