Tumblr

Suamiku Sayang, Tenun Sama Disayang

Kemenangan mereka adalah kehidupan yang kekal. Kebahagiaan mereka adalah eksistensi adat tanpa batas.

 

Wakatobi, Sulawesi Tenggara – Para Perempuan Kasultanan Buton dalam upacara adat

            Tahun lalu, tepat pada bulan Mei 2014 saya berkesempatan untuk menelanjangi bumi Wakatobi. Keangkuhan alamnya menyiratkan betapa megahnya belantara nusantara. Keragaman pusaka budaya yang terus terjaga membuat saya berat hati untuk beranjak dari pulau Wangi-wangi. Pun saya tertarik dengan cerita perempuan-perempuan dan eksistensi kain tradisional di kabupaten yang baru resmi disahkan 11 tahun lalu ini.

            Melihat keragaman corak kain tradisional seperti membaca sajak-sajak sejarah nusantara. Pun memilikinya tentu bukan berhenti pada taraf melihat saja. Tahu, paham, dan ikut andil dalam melestarikan serta mengembangkannya adalah tindakan yang seharusnya kita kerjakan bersama. Sebetulnya, dalam corak kain tradisional yang tersebar di seluruh pelosok nusantara ini menyimpan banyak cerita untuk diteladani. Ada yang berupa ajakan, larangan, ancaman, bahkan ramalan. Seperti halnya epos-epos lama, kain ini juga merupakan pusaka budaya yang patut dipertahankan. Selain  menjadi karakteristik daerah atau negara, tidakkah benar jika kita mengilhami petuah-petuah nenek moyang yang tak sempat diucapkan lisan dan tak mampu dituliskan dalam bentuk kata pada masanya?

            Banyak sekali kain tradisional yang berhenti diproduksi. Salah satunya adalah Ulos Batak. Penduduk sekitar mulai enggan memproduksi karena berbagai hal, di antaranya akibat ketersediaan alat yang saat ini hanya dimiliki Belanda dan pengaruh industri di daerah setempat. Akibatnya, beberapa corak mulai punah. Namun, berbeda dengan Ulos Batak, kain tenun di Wakatobi semakin  lestari di tangan para istri buruh migran.

            Di sebuah kampung di Kabupaten Wakatobi, sebagian besar penghuninya adalah perempuan-perempuan dari istri para buruh migran. Para perempuan ini telah lama ditinggal suaminya untuk mencari nafkah di negeri orang. Pun, nafkah yang diberikan tak selalu cukup untuk menghidupi anak-anak mereka. Bahkan, ketika para suami pulang, bukan istri dan anak yang ada dalam pikirannya, melainkan perayaan lomba sepak bola pada HUT RI. Tentu mereka akan memperebutkan alat-alat rumah tangga. Uniknya, para istri dengan setia menanti kepulangan suaminya meski dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

            Perempuan-perempuan tersebut mempertahankan hidup bersama anak-anaknya dengan memintal benang menjadi sebuah kain tenun yang akan mereka jual di pasar tradisional atau dititipkan kepada pedagang-pedagang yang akan pergi ke Kendari. Tentulah dengan menitipkannya di kota, mereka berharap kain-kain itu akan lebih cepat terjual. Disadari atau tidak, keadaan ini sebetulnya menyiratkan sebuah strategi untuk melestarikan kain tenun di Kabupaten Wakatobi. Dari perjuangan para istri buruh migran dalam mempertahankan hidup, turut hidup pula keberadaan kain tenun di sana. Apalagi, ada perkembangan pariwisata yang cukup signifikan. Lambat laun, jika keadaan yang cenderung dilihat sebagai sebuah keterbatasan itu digarap serius, mungkin saja memintal benang untuk membuat kain tenun akan menjadi usaha ekonomi kreatif daerah tersebut. Apalagi melihat bupatinya (Hugua) yang sangat progresif. Tentu lepas dari segala bentuk urusan politiknya, Ya!

            Kesetiaan para perempuan terhadap suaminya nampaknya juga berlanjut pada kecintaannya terhadap negeri dengan turut melestarikan serta mengenalkan kain tradisional daerah setempat kepada pihak yang lebih luas lagi. Kain-kain tradisional selalu dapat hidup selagi aktivitas pariwisata di Wakatobi juga terus dihidupi. Di sana, semua komponen akan  selalu ada di pelabuhan Panggulabelo untuk menyambut tamu yang datang. Penyambutan itu dilakukan oleh semua elemen masyarakat. Pun ada serangkaian ritual yang dilakukan. Sadarkah kita, bahwa semua orang yang terlibat pasti menggunakan kain tradisional yang dipintal oleh perempuan-perempuan dari istri buruh migran tersebut. Selain itu, di pulau Wanci juga dihuni oleh suku Bajao. Mereka juga rutin menggelar Duata (ritual penyembuhan penyakit) dan upacara-upacara adat lainnya. Lagi-lagi mereka mengenakan kain tradisional. kadang-kadang, suku Bajao ini juga andil dalam ritual yang rutin dilakukan di pelabuhan Panggulabelo.

            Bukan hanya orang-orang pribumi saja yang menjadi target pasarnya. Romantisme bumi Wakatobi sudah dikenal oleh negara-negara lain. Pertemuan segitiga karang dunianya  membuat beberapa peneliti dari Eropa tergiur untuk sekedar berkunjung, membawa masa, hingga melakukan penelitian di surga bawah lautnya. Publik eksternal ini juga akan menjadi sasaran dari keterbatasan para istri buruh migran.

Pada dasarnya, semua yang bermula dari rasa cinta, kelak juga akan berbuah cinta. Kita tidak boleh hanya menunggu tawa yang sebenar-benarnya tawa dari hidup yang sebenar-benarnya hidup di belantara nusantara ini. Kita pun memiliki kwajiban untuk andil dalam mendampingi dan memberikan sumbangsih pemikiran untuk saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan akses tetapi menyimpan potensi yang luar biasa.