Memori, Sampai Nanti

Ketika Sadar Datang Terlambat

Malam itu kutepis raguku, tentang kebaikan yang datang satu persatu, tentang rasa penasaran yang timbul dan pelan-pelan menubuh tapi sebentar luruh. Konon, memang tidak ada manusia yang benar-benar tulus. Namun, tak perlu menilai porsi pamrihnya. Yang aku terima adalah sisi baiknya, dan aku menutup mata atas alasan berbuat baiknya. 

Malam itu, aku menyadari bahwa ternyata aku tidak pernah jujur pada diriku. Seakan-akan menerima apa adanya dan merayakannya. Menutup mata hanya untuk memanipulasi apa yang sebenarnya terjadi. Malam itu, aku sadar bahwa aku bodoh. 

Apa yang terjadi setelah ini? 
Orang-orang akan terus hidup dan berdinamika, berperan dengan topengnya masing-masing, dan aku? Barangkali masih bodoh, barangkali masih dengan senang hati untuk dimanipulasi, dan barangkali tetap menerima kamuflase kebaikan itu dengan riang. 

Berharap hanya pada diri sendiri, yakinku sih begitu. Tidak mudah untuk meminta, “mari berteman karena aku adalah aku”,
meski sebagian darinya menyerukan,”mari!”…
Mungkin akan selalu curiga, mungkin tidak lagi percaya. 

Sadar selalu datang terlambat, untuk kembali ragu dan menempuh perjalanan dengan lebih hati-hati, atas apapun, dengan siapapun.