Memori, Sampai Nanti

Bapak Telah Menepati Janjinya

Bapak menepati janjinya, untuk tetap mengajar dan melakukan penelitian tanpa ambisi jabatan. Saya ingin menjadi murid Bapak yang pertama menyatakan bangga, juga hormat atas pilihan itu. 

Hari ini Bapak berpulang. Kami mengantar Bapak dengan merayakan banyak perubahan baik dalam hidup kami atas campur tangan Bapak; Pak Iqbal yang bersedia begitu saja saat saya menginginkan Bapak menjadi pembimbing utama; Pak Iqbal yang memudahkan jalan penelitian pelajar miskin seperti saya dan beberapa kawan untuk tetap bisa menghasilkan karya terbaik dengan tetap bisa makan; Pak Iqbal yang seketika setelah saya mendaftar sidang, mendorong untuk sekolah lagi; Pak Iqbal yang memberikan tantangan agar saya bisa lulus doktoral sebelum usia 30 tahun. Dua belas tahun kemudian, Bapak lebih dulu pamit sebelum saya mewujudkan tantangan itu. 

Minggu ini, ketika saya sedang berandai-andai menjadi seorang pengajar, saya ingat kelas Bapak. Saya begitu mengagumi cara Bapak mengenalkan metode penelitian; kami (murid-murid Bapak) mencintai penelitian tanpa takut dan tertekan. Saya ingat saat tetiba datang ke meja Bapak, menyodorkan tiga judul penelitian, lalu Bapak berujar,”kamu pilih yang mana?”

Satu judul saya pilih, lalu Bapak bilang,”Ok, saya mau jadi pembimbing kamu. Bilang saja, kita sudah diskusi dan segera kamu daftarkan”

Begitu banyak cerita baik saya dengar hari ini, tentang Bapak dan bersama Bapak; mahasiswa yang minta tanda tangan Bapak di halte jam enam pagi, di hari terakhir pendaftaran skripsi, di saat Bapak sedang buru-buru akan ke luar kota untuk menempuh studi; mahasiswa yang tidak perlu menimbang ketakutannya ketika akan memasuki ruangan Bapak, juga hari-hari terakhir Bapak ketika masih tetap mengajar dengan segala keterbatasan fisik. 

Bapak tidak pernah menatap saya dengan sinis ketika saya datang ke kampus tak berjilbab lagi, ketika sebagian yang lain pura-pura bertanya,”kamu siapa” padahal ingat. Lalu Bapak menjawabnya lebih dulu sebelum saya memperkenalkan diri,”ini Eni, alumni kita.” Bapak selalu mengiyakan janji temu di sela-sela waktu luang Bapak, sekalipun saya bukan lagi murid Bapak di kampus tempat Bapak mengajar. Saya merasa, di manapun berada, saya tetap diterima sebagai murid Bapak. 

Lepas Maghrib ini Bapak akan diantar pulang, di mana jarak antara kami dengan Bapak tidak terhitung angka, batas yang tidak bisa dijangkau, kecuali dengan doa. Kami melepasmu, karena kami yakin, mulai hari ini Bapak tidak perlu menahan rasa sakit, menikmati lebih banyak kebaikan dari yang Bapak tebar selama ini. 

Selamat jalan, Pak Fajar Iqbal. Terang, lapang, dan tenang jalanmu kini. Kebaikan yang kami terima semoga bisa kami teruskan juga.