Kamu membenci perjalanan dengan waktu tempuh yang tidak pasti. Kamu terganggu dengan proyeksi tanpa kalkulasi. Kamu pura-pura menerima bahwa segala yang terjadi tanpa permisi bisa ditoleransi, termasuk bau-bau keringat yang tidak tahu diri. Apakah kamu harus menangis karenanya? Siapa yang peduli, semua akan berjalan dengan kemauannya sendiri.
Tidak ada waktu untuk tidak menyetujui. Tugasmu hanya patuh, maka semua akan luluh. Rencamanu pun luruh. Tersisa kah dirimu yang sia-sia? Mungkin saja tidak
Sebuah kedai menjajakan berbagai jenis pastry. Kamu datang seorang diri, bertanya pada inginmu sendiri, tapi seakan tak punya pilihan. Kamu mengandalkan seorang penjaga kedai, memesan berdasarkan rekomendasi yang ia bilang suka. Lalu kamu duduk sendiri, di meja yang terdiri lebih dari satu kursi. Benar, kamu dan dirimu hanya memiliki satu sama lain. Seringnya asing tapi enggan untuk berkenalan. Besar bersama tapi saling mengingkari. Ada yang berubah hari ini? Merasa semakin dekat tapi justru menyakitkan, melihat luka yang dibuat bersama-sama. Saling memeluk? Tidak semudah itu kurasa.
Pastry pesananmu sudah tiba. Terlalu crispy, bukan seleramu. Kamu sedang membuang sebagian rupiah yang mati-matian dikumpulkan. Kamu menyadari sekaligus mengenyahkannya.
Sesuai rencana, hari ini kamu tak berencana. Bukannya menikmati hari, ternyata kamu sibuk mencari; apakah perjalanan ini melelahkan, membosankan, atau justru tidak kamu inginkan?; siapa yang akan membantumu berdiri esok hari, jika tiba-tiba kakimu tidak bisa bergerak?; mengapa hal yang kamu benci sekalipun tidak bisa kamu prediksi, contohnya saat kamu tumbuh menjadi manusia yang menabung banyak air mata, bukan dollar.
Tak ada tampak terang di depan, tak ada rencana dibuat bulat, tak ada perjalanan yang direncanakan. Kini kamu membenci perjalananmu sendiri, tidak mampu menerjemahkan apa yang sedang terjadi. Apa nama dari perasaan-perasaan yang muncul belakangan ini?
