Semarang, 28 Agustus 2024

Mau tidak mau, harus diakui, saat itu aku masih peduli. Menulis sepucuk surat dari hati, menangis sepanjang hari, mencoba untuk bertahan; betapa panjang tiga malam di kota ini. Keputusan sudah dibuat, menunggu waktu yang baik itu tiba; baik untuk semua. Tak ada ragu untuk melangkah dengan jalan yang baru.
Yogyakarta, 30 Agustus 2026
Teknologi membawa memori pada riwayat perjalanan dan peristiwa dua tahun lalu. Aku mencoba mengumpulkan sisa visual; duduk sendiri di sebuah kafe membelakangi meja barista agar bisa leluasa menangis; membiarkan nasi goreng bertahan hingga dingin, karena ia dipesan bukan untuk dimakan, sekadar tanda bahwa meja ini sudah ada pemiliknya; dan menghabiskan tisu tanpa biaya tambahan.
Mengingat hari-hari setelahnya; singgah dari rumah ke rumah, mencoba peruntungan dan banyak buntung, hingga satu peristiwa cukup menyadarkanku bahwa Tuhan memang ingin menyelamatkanmu, sadarlah!
Sebagian cerita masih sering kudengar dari kawan atau kenalan. Anehnya aku tidak lagi mengutuk, tetapi juga tidak ingin terhubung kembali. Tidak ada doa-doa buruk kurapal, juga doa-doa baik. Mungkin karena sudah tidak peduli.
Tuhan memang menyelamatkanku dari banyak sisi, terutama cara berpikir. Hariku baik, hangat bersama orang-orang yang aku kasihi, punya banyak waktu untuk belajar hal baru. Belakangan, aku bingung cara mensyukuri nikmat ini.
