Buku, Kedai Rasa

Stelora dalam Cermin

Perempuan yang rutin mengetuk ruang praktek, mengenakan masker dan membawa catatan itu adalah diriku dalam wujud Stelora. Ia menyampaikan segala hal dengan ragu dan hati-hati, menuliskan obrolan selama terapi, menandai segala kemajuan diri, menahan dan merasakan emosi yang muncul terbuka. Bedanya, Stelora punya anak, sedangkan aku tidak. 

“Kita semua sama. Sama-sama tidak ingin dilahirkan”, 

Bab Pertama diakhiri dengan pernyataan yang membuatku bergumam dalam hati, apakah aku juga demikian? Atau barangkali, jika aku tidak dilahirkan sebagai diriku, apakah perasaan itu masih sama?

Buku ketiga Andreas membawa nuansa agak berbeda dari dua buku sebelumnya. Kali ini, aku membaca dengan lebih hati-hati, sambil menantang diri untuk belajar menerima dan rajin berlatih. Rasanya, ada bongkahan batu besar yang selama ini terasa menjadi beban pandang, kini harus dibongkar. Entah keberuntungan atau kebetulan, buku ini tiba dengan hangat, saat kondisiku sedang sangat stabil. Setelah menyelesaikan buku ini pula, akhirnya aku membuat janji temu lagi dengan terapis; ya, kini aku siap membereskan satu sisi piring lainnya dalam hidupku. 

Hal besar yang selama ini ditunda untuk diselesaikan, atau setidaknya enggan untuk dibicarakan selama sesi terapi adalah perkara rumah. Dalam buku ini, Andreas menggambarkan rumah bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan tumpukan cinta kasih yang mewujud pada ruang aman untuk ditinggali. Rumah dalam bentuk bangunan, secara konkret juga tidak pernah kujaga, karena setiap hari, lepas bangun pagi, inginnya lari cari warung kopi. Rumah dalam bentuk ruang aman yang dibangun dengan cinta kasih, aku masih membentangkannya dalam wujud campur tangan orang lain, bukan dalam diri sendiri. Buku ini membawaku untuk berani membicarakan rumah (dalam banyak arti) pada sesi terapi bulan Juni. 

Stelora adalah aku, yang menginginkan rumah untuk  bereksplorasi dengan aman, kamar yang memberikan kebebasan untuk lompat dan berlari tanpa diteriaki, juga jalan pulang yang tidak membuatku tersasar. Menghabiskan buku ini seperti memoles wajah di depan cermin; mengamati setiap detail wajah dengan baik, menandai perubahan yang disadari ataupun disesali, dan merayakan bagian lembut dan manis yang menumbuhkan rasa percaya diri. Hai Stelora, terima kasih, ya, sudah menjadi teman bercermin!

Setiap bab dalam buku ini memantik memori. Sebagian besar memori menimbulkan ketidaknyamanan. Jika pada buku pertama aku selalu memberi jeda dengan mengizinkan diriku untuk menangis dan mengatur nafas, buku ini memantik rasa sakit yang bahkan aku tidak mampu memberinya nama. Selain timbul rasa sakit, buku ini membuatku tidak berhenti berpikir tentang langkah yang sudah dan akan, tentang tokoh dan karakter nyata yang pernah singgah dan masih betah, juga tentang peran-peranku yang pernah dan sudah. Beberapa guyonan kecil dalam buku ini menjadi alat canggih untuk meredakan sedikit kegetiran diri, sebelum hanyut dan berkontemplasi kembali.   

Pada bagian akhir buku ini, Andreas mengajak pembacanya untuk berlatih menulis dan berbalas surat dengan diri; bermain peran sebagai orang dewasa dan anak-anak yang membutuhkan validasi dan pelukan hangat. Instrumen latihan sederhana yang tidak mudah dilakukan, tetapi sangat mungkin dan perlu dicoba, berulang, berkali-kali. Aku meyakini bahwa semakin dilatih, prosesor di dalam pikiran kita juga akan terlatih untuk bisa mengelola diri dengan pilihan-pilihan yang tidak menyakiti diri sendiri. 

Buku yang patut dirayakan sebagai kawan tumbuh manusia dewasa; yang tidak menggurui, tidak menuntut, tetapi mendorong keberanian untuk bergerak dan berubah, terutama mengakses bantuan profesional jika memang merasa terhubung dan ingin tumbuh lebih bebas dan bestari.