Memori, Sampai Nanti

31

Malam itu, kupeluk erat ibumu di depan pintu. Cerita baik tentangnya seakan-akan membuatku sudah mengenalnya lebih dekat, padahal sekali pun kami tidak sempat bertemu. Katamu, ia pernah menyiapkan daging untukku, seminggu sebelum ia berpulang. Daging yang akhirnya tidak pernah sampai ke tanganku itu, kelak akan kita rayakan ramai-ramai, kan?

Kulihat senyummu malam itu. Dan setelahnya, kita jarang bertemu. Semoga menjadi isyarat bahwa tempatmu kini sudah sangat nyaman. Datanglah sesekali, kabarkan betapa banyak senang yang sedang kaugenggam hari ini. Datanglah dengan senyum indah itu lagi, juga bersama ibumu.

Menjelang putaran ke-31, rayakan dengan tenang dan riang gembira. Pada banyak putaran yang akan datang, kami akan selalu merayakan hidup bersamamu, hingga paripurna rindu saat kita bertemu lagi kelak.