Tumblr

Transformasi Seragam; Dari Gaya Pakaian Menuju Gaya Perilaku

Seragam identik dengan simbol identitas kelompok. Cita dan cinta berkelindan dalam sebuah simbol yang telah disepakati bersama. Kita tidak akan menemukan perbedaan signifikan dari masing-masing individu yang mengenakan seragam, karena melalui seragam mereka sudah mencitrakan sebuah persamaan yang identik. Beberapa orang akan menikmati pola yang muncul dari seragam. Namun bagaimana jika seragam ini bertransformasi dari pakaian ke dalam perilaku manusia?

Saya lahir dan besar di Yogyakarta. Sejak kecil saya kerap diajak nenek dan ibu belanja di Pasar Beringharjo, apalagi jelang lebaran. Bertahun-tahun saya
menjadi saksi hidup euforia masyarakat menyambut lebaran di kota ini. Mulai dari persiapan seragam keluarga hingga kebiasaan-kebiasaan lain, pun dilakukan berulang pada momentum yang sama. Bahkan ritual ini mungkin juga terjadi di daerah lain. Boleh jadi karena keterbatasan waktu luang, sehingga kesempatan untuk melakukan ritual jelang lebaran pun dilakukan pada waktu yang sama, yaitu pada saat cuti bersama resmi dimulai. Pun alasan lain adalah tunjangan ekonomi dan keinginan yang baru dapat dipenuhi pada saat momen ini tiba.

Di antara banyak orang yang memadati pasar, saya melihat beberapa tidak sabar mengantre. Tidak sedikit pula yang berakhir dengan saling umpat. Mungkin ibarat orang yang terlampau lapar memilih warung makan idola sejuta umat yang antreannya sejagad. Pun, makanan yang dipesan tak kunjung datang, sedangkan perut sudah tak sabar berdendang. Mereka semacam sedang kecewa dengan pilihan dan keputusan sendiri. Namun jangan lupa bahwa romantisme ini akan dirindukan banyak orang, meski mereka harus menahan umpatan atau mugkin tidak sadar telah mengumpat.

Romantisme sebuah ritual yang diseragamkan, artinya seakan-akan menjadi kebutuhan utama yang harus dilakukan atau dimiliki pada hari-hari tertentu, bukan hanya menyoal lebaran. Deskripsi di atas hanya ulasan kecil saja. Pada intinya saya ingin menulis bahwa seragam bukan sekadar makna denotatif dari baju yang sama. Saat ini, seragam sudah bertransformasi pada perilaku manusia yang cenderung harus sama dengan aktivitas mayoritas pada umumnya. Saya tidak ingin berandai-andai atau sekadar otak-atik-gatuk. Saya hanya ingin melihat bagaimana jika kebiasaan menjadi harus diseragamkan oleh pribadi masing-masing tanpa ada yang memaksa atau mengaturnya.

Saya akan melihat konteks seragam dalam pemikiran “semua harus sama” atau “sama dengan yang lain itu adalah baik” dan “berbeda itu berbahaya, tidak pantas”. Saya pun tidak akan jauh membahas isu yang lebih kompleks. Saya hanya ingin melihat kebiasaan orang-orang dalam menentukan pilihan untuk menjalani kebiasaan hidup mereka.

image

Kadang orang sering salah fokus. Ia mengejar hal-hal yang tidak terkejar sampai mengabaikan kesempatan besar di depan mata yang lebih potensial untuk dikembangkan. Kita fokus berebut satu hal yang digemari oleh banyak orang. Kita ragu dengan perbedaan dan merasa tenang dengan sistem yang disamakan. Saya semakin menyadari hal tersebut baru-baru ini, ketika saya menjadi salah satu dari ribuan orang yang sedang menggantungkan nasib pada beasiswa. Pun berada di antara anak-anak galau dengan ragam perspektif dan tujuan, baik yang serius maupun hanya iseng ternyata tidak bisa menjernihkan pikiran. Ada saatnya saya harus ikut galau, ada juga saatnya saya ingin lepas dari kumparan mereka. Berbagai pertimbangan menguatkan saya untuk melepas dan mencari alternatif potensial lainnya untuk mengembangkan potensi diri.

Saya sadar dan yakin bahwa memilih jalan kita sendiri itu tidak mudah. Mengupayakan mimpi sebagai orang yang berbeda, pun untuk memberikan hasil yang optimal juga harus bekerja lebih keras. Saya juga yakin jika masih berada dalam alur yang diikuti oleh sebagian besar orang, saya hanya akan menjadi orang yang gelisah.

 

*tulisan ini akan saya lanjutkan pada bagian yang lain, soal di balik sistem beasiswa yang sedang menjadi primadona dan proyeksi semu para penerimanya.