Kalau mati dengan berani: Kalau hidup dengan berani.
Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita
(Pramoedya Ananta Toer)
Pram, dikenal dengan nalarnya yang kritis dan jernih. Ia mampu mendudukkan keberpihakan secara tepat. Beruntungnya, Ia bukan Tuhan, sehingga nukilan dari postulat-postulatnya tidak ditafsirkan layaknya parang yang akan dihunuskan kepada lawan saat perang. Pram tidak maha besar, sehingga tidak ada sekelompok fasisme berteriak atas namanya sebelum bergerak di luar nalar. Beruntungnya, ia bukan Nabi, sehingga tidak ada di antara pengagumnya yang menjelma sebagai malaikat untuk menyampaikan doktrin atas nama wahyu. Beruntungnya, Pram bukan ahli tafsir, bak dukun yang akan meramal beragam kemungkinan dan menimbulkan konflik horisontal. Beruntungnya, ia sudah menempatkan diri dalam situasi yang (semoga) lebih tenang. Meski entahlah, apakah ia juga masih melihat pertengkaran-pertengkaran busuk atas dagelan nalar yang konyol dan tidak lucu ini?
Di tengah kebisingan nalar, postulat Pram di atas menjadi gambaran tentang standar ganda keberanian. Pertama adalah keberanian beragam kelompok untuk menjernihkan sejarah, nalar, dan keberpihakan. Kedua, keberanian kaum fasis untuk melancarkan radikalisme dan islamophobia. Ketiga, keberanian institusi pendidikan yang sibuk memoles citra tanpa berbenah untuk menutupi segala kebusukan mereka dengan cara yang salah. Masing-masing memiliki keberpihakan. Ketiganya juga sama-sama punya kepentingan. Pun akal budi mereka juga turut andil. Ingat, bahwa mereka tidak bekerja seorang diri.
Solidaritas muncul dari banyak sisi, tentu masing-masing membawa ideologi. Sosiokultural dan ideologi masyarakat makro tengah dipermainkan. Lalu, kepada siapa kita harus berpihak? Siapa pula yang tengah berperan sebagai penjajah?
Bekal akademis saya belum cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya khawatir dugaan-dugaan yang muncul hanya akan memberikan kesimpulan yang tak adil. Saya sedang berandai-andai tentang seorang Wijaya Herlambang dan bukunya “Kekerasan Budaya Pasca 65”, sebuah karya yang membersamai penelitian saya, dan pada akhirnya Wijaya Herlambang meninggal 40 hari setelah penelitian saya selesai. Buku itu belum selesai. Banyak hal yang harus dilanjutkan untuk menjawab nukilan postulat Pram di atas. Hormat setinggi-tingginya untuk kawan-kawan yang berani bersikap dengan nalar kritis dan mendudukkan keberpihakan. Tabik….
