Kemuliaan bagimu adalah impian kekal yang menyerang setiap lorong kesengsaraan. Pun kesengsaraan bagimu adalah hal yang kekal tanpa diimpikan meski kemuliaan sedang berkumandang.
***
Jalan terlampau panjang. Tak pernah kau dapat membiarkan matamu meraih ujung dari setiap tikungan. Pandanganmu nanar melihat setiap tikungan jalan. Penuh kisah, sedikit kasih, menyimpan luka, pun banyak ilusi yang menelanjangi imajimu. Sering kau berhenti di sebuah tikungan. Sebentar ingin mengikutinya. Namun kadang kau berpikir lain. Kau harus tetap mengikuti jalan dan hanya akan singgah pada tikungan terakhir, sebuah tikungan menuju ujung yang akan memberimu kemuliaan kekal.
Di bawah gemerlap sinar kau berlenggang. Jemari lentikmu bisa dibilang sangat cantik untuk memukau setiap wanita yang datang. Iringan gendhing jawa mampu membuat setiap gerak tubuhmu memiliki makna kedamaian. Kau mampu membuat para wanita ikut berdebar. Entah berdebar karena senang atau trenyuh dengan pertunjukkan yang tengah kau bawakan.
Pun kau, Sri, sebagai penari senior di panggung ini, semakin lincah diiringi laras slendro. Tubuhmu semakin gemulai dengan laras pelog.Kau menguasai keduanya. Bahkan kau sering membawakan dua karakter tokoh dalam tubuh yang hanya satu itu. Kau berperan ganda sebagai tokoh jahat juga baik. Sungguh, kau nampak seperti penari sempurna.
Semua nampak indah di atas panggung. Dekorasi dan penampilan yang disajikan akan semakin menambah kesan sempurna.Tapi, sebenarnya kau jauh dari kesempurnaan itu. Menjadi seorang penari bukan lahir dari nalurimu. Kau hanya ingin bercerita kepada orang-orang, bahwa hidup layaknya dua topeng yang kau pakai saat menari. Manusia tak luput dari bayak sifat yang digariskan oleh Tuhan. Pun kau hanya dapat berucap lewat setiap gerakan yang kau bawakan.Kau bukanlah orang yang pandai bercakap. Ketidakmampuan mendengar membuatmu juga tak mampu bermain lisan. Entahlah, tak ada yang tahu bagaimana kau dapat menghayati setiap irama dari gendhing pengiring tarimu.
Kau sadar bahwa hidupmu juga penuh topeng. Kau hampir menipu semua wanita yang datang untuk menonton aksimu, juga dengan sesama teman penari. Ya, meski kau tak ada niat untuk menipu mereka. Hidupmu hampir seperti topeng, Sri. Kau nampak seperti wanita. Kulitmu halus, sikapmu juga menunjukkan seorang wanita jawa yang andhap asor dan penuh unggah-ungguh. Kau cantik benar ketika bersolek. Keanggunanmu saat menari selalu memukau wanita yang menonton.
Sri, taukah kau bahwa panggung yang menjadi ladang penghasilanmu itu adalah panggung milik wanita? Mereka datang bukan sekedar untuk melihat pertunjukkan tari, tapi ingin merengkuh lebih banyak lagi dari sang penari. Pun kau adalah salah satu harapan mereka.
Namun kau pernah sekali tempo berbicara dengan seorang kawan. Kau menjelaskan dengan kata isyarat dan lisan yang terbatas bahwa wanita adalah seni. Kelembutannya tersirat dari setiap gerakan tari yang memukau penontonnya. Menjadi wanita bukan sebatas pemuas nafsu lelaki, tetapi merengkuh kesederhanann dari yang tersimpan di dalam jiwa. Entahlah, apakah kawan yang kau ajak bicara paham dengan ucapmu? Dia hanya tersenyum dan sesekali mengernyitkan dahi. Ya, bercakap denganmu memang butuh waktu lama supaya bisa paham.
Atas prestasimu kau semakin disegani. Mereka tidak mempermasalahkan identitasmu. Setiap minggukau disambut oleh riuh ramai penonton di depan panggung. Penampilanmu semakin menjadi. Aura sumringah semakin membuat penonton terpana.
Pernah pula kau bercakap dengan seorang kawan yang lain. Keindahan bagimu hanya ada dalam tarian. Sungguh kau tak merasakan indahnya hidup. Lepas dari panggung pertunjukkan itu, kau tak tahu siapa dirimu dan kepada siapa kau harus mengadu. Mungkin, pasukan semut yang berbaris di sudut-sudut tembok itu lebih beruntung. Mereka tidak mempersoalkan laki-laki dan perempuan. Kau juga sempat berpikir kalau pasukan semut itu tidak pernah pusing memikirkan legalitas yang digerakkan oleh Sang ratu. Mereka bebas untuk melakukan apapun setelah semua tanggungjawab dikerjakan dengan tuntas. Tidak seperti kau yang kini masih hidup dalam sekat.
Senyummu menyimpan duka, tapi duka tak pernah kau umbar. Biarlah setiap tapak kakimu yang akan melihat peta luka itu. Kau berlaga seakan-akan menjadi wanita dan penari di atas panggung. Kau juga nampak layaknya wanita muslim saat menuntut hak mu sebagai salah satu warga negara dalam mengenyam pendidikan. Sekilas, kau nampak seperti penghianat Tuhanmu.
“Ah… demi mendapatkan hak untuk belajar dan mengenyam pendidikan, mereka merampas hak kebebasan menganut kepercayaan” sebentar-sebentar kau berucap demikian di balik panggung, ketika kau ingat kejadian yang kau alami sehari-hari, lepas dari panggung pertunjukkan.
Kau memang jarang berinteraksi dengan sesama penari ataupun penonton usai pertunjukan. Percuma, karena mereka juga tak paham dengan cakapmu. Kau lebih suka bercakap sendiri. Waktumu kau habiskan untuk merenung di salah satu sudut ruang ganti. Di depan kaca, sambil menghapus bekas-bekas pentas yang mempercantik wajahmu itu, kau melihat dirimu dengan saksama. Kau perhatikan benar setiap detail bagian wajah yang kau miliki.
“Tuhan, aku tidak cantik, tapi aku suka dengan pemberianMu ini… . Tuhan, berkahilah setiap jalan yang akan hamba lalui hari ini dan nanti.”
Senyummu merekah di depan kaca, tapi tak bertahan lama. Kau selalu ingat waktu jilbab dan jubah harus menyambangimu, setiap pagi hingga sore.
“Tapi Tuhan, sungguh hamba mohon kearifanMu untuk memaafkan hamba. Mungkin hanya ini jalan satu-satunya supaya hamba dapat sekolah, mencari dan mengembangkan ilmu yang akan bermanfaat untuk sesama kelak. Tuhan, imanku padamu, bukan pada jilbab dan jubah itu.”
***
Kau pun jadi teringat masa-masa mencari suaka sekolah. Tak ada satupun sekolah yang mau menerimamu. Itu semua karena keterbatasanmu. Beberapa jurusan pada sekolah negeri enggan menerimamu karena orientasi gender yang dianggap tidak legal. Pun beberapa sekolah lain menganggap keterbatasan mendengar dan bercakapmu akan menghambat pembelajaran.Hingga ada satu sekolah yang menerimamu. Itu pun karena sebuah kelalaian. Mereka sadar akan difabilitasmu tapi tidak melihat orientasi gender yang kau miliki. Mereka baru sadar ketika bertatapan langsung dalam sebuah ajang orientasi mahasiswa baru.
Kau sempat gembira. Sebentar lagi kau akan duduk di depan meja dosen dan mendengarnya bertuah banyak. Namun tidak semudah itu. Kau harus menaati semua aturan mainnya. Kau harus sadar bahwa kau akan bersekolah di sebuah universitas islam. Lantas kau harus berjilbab dan mempelajari tuntunannya? Ya, Sri! Kau harus lakukan itu.
Kau tak pernah mengeluh, karena tak bisa berbagi keluh. Kau menjalani semua itu. enyahlah, Sri. Apakah kau bahagia atau tidak. Kau menganggap mempelajari tuntunan mereka sebagai ilmu baru yang tidak harus diamalkan. Kau tetap tegak berdiri di atas kepercayaan yang kau imani sebelumnya. Ini hanya media, dan ini satu-satunya jalan supaya kamu dapat belajar lebih tinggi lagi. kau tak bisa menyalahkan siapapun. Kau tak punya kuasa dan kapasitas. Kau hanya makhluk kecil ciptaan Tuhan yang harus patuh pada kuasa negerimu.
***
Kau masih di depan kaca pada salah satu sudut ruang rias. Wajahmu mulai bersih meski gincu dan bedak masih sedikit tersisa. Gerimis turun tipis di luar sana. Titik-titik air tak berhenti menerpa kaca jendela. Matamu pedih, kau mulai menangis. Di luar begitu gelap. Kau tak melihat ujung. Kau tak melihat lagi tikungan. Lampu penerang jalan hanya nampak samar.
“Tuhan selalu menerangi hati kita dengan rasa. Sama seperti kita meyakininya. Dia tidak mempermasalahkan jilbab, salib, atau pergi ke pura. Tuhan hanya melihat kebersihan hati umatNya.” Gumammu lirih
Tiba-tiba kau terhenyak oleh seorang wanita yang menepuk pundakmu. Wanita yang lebih muda darimu itu adalah kawan penari yang baru saja pentas dan bersiap pulang.
“kau tak pulang, Sri?” dia berucap pelan sambil memeragakan isyarat tangan agar kau mengerti
“di luar masih hujan. Kau pulang saja duluan. Hati-hati, Ya!” kau bercakap pelan dengan bahasa isyarat dan selalu melempar senyum.
Kau memiliki banyak teman di panggung pertunjukkan ini. Sesama penari, penonton, penata rias, bahkan kaum-kaum yang dianggap tidak normal oleh sebagian besar masyarakat di negeri ini pun selalu ramah dan berkawan denganmu. Kau sangat merasakan perbedaan yang sangat kentara antara di sekolah dengan di panggung. Kau juga heran dengan orang-orang di sekolah yang konon adalah orang terdidik dan terpelajar. Kau tak ingin dihargai. Kau juga tak ingin disanjung-sanjung bak menteri yang konon sudah melakukan banyak hal untuk negeri. Kau hanya ingin berkawan dengan mereka.
Namun kau tak memaksakan itu. Kau sadar benar siapa dirimu. Mungkin hanya orang-orang seperti inilah yang bisa berkawan denganmu. Dan di tempat inilah kau mendapat bingkai dari semua peta luka yang masih kau tapaki hingga ujung sudah terlihat dan kemuliaan kekal menjemput.
Sri, berjalanlah sampai kau menemukan ujung yang benar-benar ujung. Kukuhkanlah langkahmu meski duri menambah luka di sela-sela jemari kakimu. Lorong ini milikmu. Tapak kakimu akan merekam semua peta luka kesengsaraan ini. Pun kemuliaan akan menjadi bingkai yang kekal, meski saat ini kau hanya bisa menjamahnya dalam angan.
Panggung pertunjukkan ini adalah panggung perjalananmu. Luka, duka, dan suka kau ceritakan melalui setiap gerakan tari. Meski bibir tak mampu berucap, namun hati dan pikiranmu bisa bercerita. Meski telinga tak dapat mendengar, tapi senyumu adalah pertanda bahwa kau dapat merasakan dan mengerti. Pun meski kau bukan perempuan, tapi kau memiliki kelembutan hati yang tidak dimiliki oleh perempuan lainnya.
***
Kemuliaan bagimu adalah impian kekal yang menyerang setiap lorong kesengsaraan. Pun kesengsaraan bagimu adalah hal yang kekal tanpa diimpikan meski kemuliaan sedang berkumandang.
Tembi, 2013
