Kebahagiaan adalah rasa yang timbul saat kemenangan hadir dari setiap untaian proses. Sempat bangga, penuh suka atas harapan yang sudah mulai terwujud satu demi satu. Begitulah yang saya rasakan setiap kali mendapat berita kemenangan. Ya, meski saya sering payah di tengah karena kemenangan itu hanya datang sebentar, bahkan tidak tuntas. Lalu saya berpikir bahwa menikmati proses adalah hal paling seru karena proses lah yang akan menemani saya lebih lama daripada kemenangan yang sering saya tunggu.
Sabtu, 15 Maret 2014, tepat setelah mengikuti motivation day bersama Pak Ahmad Yuniarto dan Mas Iqbal Wasisto Adi di SMA N 1 Jetis, saya mendapat email dari panitia Indonesia Youth Forum (IYF) 2014. Mereka megabarkan bahwa social project saya lolos, sehingga saya berkesempatan mengikuti rangkaian acara di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sebentar saya merasa senang yang sangat akut. Kapan lagi bisa ke sana? Bolos kuliah pula. Pun pada waktu itu sedang dilaksanakan ujian akhir yang paling saya hindari yaitu Table Manner. Oleh karena itulah saya merasa dimerdekakan. Rasanya seperti kebahagiaan bertingkat. Hehe
Pertimbangan utama saya waktu itu bukan soal social project yang akan menang dan mendapat dana dari pihak penyelenggara. Social project hanya perantara untuk bertemu dengan orang-orang dari pelosok negeri, berbagi cerita, dan belajar dari perjuangan hidup anak-anak di kampung Bajao. Meski Wakatobi terkenal dengan surga bawah lautnya, dengan pertemuan segitiga karang dunianya, tapi hal paling seksi dan ingin saya pelajari adalah pesona pusaka alam dan pusaka budaya masyarakatnya.
Kemenangan itu sempat tertunda ketika saya mendapati lampiran file yang dikirim oleh panitia IYF melalui email. Dalam lampiran tersebut tertulis bahwa saya harus menanggung biaya transportasi pulang dan pergi. Duh! Duit dari mana? Beberapa pihak seperti kampus dan dinas kepemudaan daerah tidak berkenan memberikan subsidi. Pun ketika saya melihat peserta lain dari satu regional, mereka berangkat dari jurusan elit, yang saya pikir kondisi ekonomi mereka sudah sangat mendukung.
Satu-satunya pihak yang sepenuhnya mendukung adalah Biru Peduli. Tanpa Biru Peduli, kemenangan bertingkat (berangkat ke Wakatobi, bolos kuliah dan bebas ujian Table Manner) tidak akan terjadi. Tanpa Biru Peduli, saya masih dirundung rasa penasaran dengan kondisi kampung Bajao. Tanpa Biru Peduli, saya pun tidak tahu kapan dapat menikmati naik pesawat, mabuk laut, struggling masyarakat Bajao, masalah-masalah sosial,budaya, politik dan gender di pulau Wanci, dan sambutan para pejabat daerah di Wakatobi. Petualangan sembilan hari di pulau tenggara nusantara tidak lepas dari dukungan Biru Peduli. Bahkan mungkin ribuan ucapan terimakasih tidak sebanding dengan dukungan yang telah diberikan. Tapi, tetap saja hanya dapat berucap TERIMAKASIH dan POWER WUSSSSHH buat BIRU PEDULI. J
