
Kawan, ingatkah masa-masa dulu kita saling menyanyang? Awalnya hanya saling mlirik, kemudian kita saling menatap, melempar senyum, menanyakan nama, asal sekolah, dan obrolan panjang yang membuat kita melebur dalam satu rasa.
Satu rasa dalam perbedaan adalah hal yang tidak kita duga sebelumnya. Awalnya masing-masing dari kita merasa asing. Terkadang kita hanya berucap dalam hati dengan keasingan itu. Entah apakah kita berucap hal yang sama? Aku sendiri selalu mempertanyakan, bahkan kadang mencoba menebak sifat orang-orang baru di antara kita yang datang begitu saja.
Ya… orang-orang itu sama seperti kita dulu. Dia datang dengan jilbab warna hitam. Dia yang lain selalu tampil dengan celak di sekitar matanya. Kita heran melihat Kau yang selalu berdalih, Mereka yang selalu berbincang renyah, dan ada Sosok yang selalu diam ketika tak ada yang mengajaknya berucap. Pun Lelaki itu selalu terlihat dengan anting di telinga kanannya. Terkadang juga kita terhenyak oleh Sosok berkacamata yang nampak lebih berotak daripada yang lain. Ada lagi, Lelaki gembul dan Wanita mungil yang menjadi perekat perbedaan yang ada. Mereka mengemas kita dalam satu rasa, satu warna, tanpa menghapus rasa dan warna masing-masing dari kita. Dan bersama mereka lah kita dapat lebih saling mengenal dan saling menyanyang.
Kita datang, kita berkumpul dan kita berkarya.

Datang dari berbagai tempat dan berbagai hal menuju satu tempat paling teduh yang kita anggap sebagai rumah ke dua. Kita membawa bekal masing-masing. Ada yang bekalnya sudah terlalu cukup, ada pula yang sama sekali tak berbekal. Dan itu aku.
Tak peduli dengan bekal yang kita bawa, pun kita berkumpul untuk sama-sama menyatukan rasa, gagasan, dan terkadang pemberontakan. Tak peduli dengan dia yang berjilbab, dia yang bercelak, sosok yang diam, mereka yang renyah, laki-laki ber-anting, serta dia yang gundul. Kita belajar dari pertemuan itu bersama lelaki gembul dan wanita mungil yang selalu menyambut dengan senyum ringannya.
Satu hari… dua minggu…tiga bulan… entah sudah berapa tahun kita berimajiner.
Lelaki gembul dan wanita mungil itu setia mendampingi kita. Mereka tak mengandung kita. Namun, mereka yang melahirkan kita menjadi generasi yang sadar akan darah yang mengalir dalam tubuhnya masing-masing dan generasi yang selalu peduli untuk berkarya. Ya, karna mereka melatih kita untuk menuangkan kegalisahan dalam karya.
Kawan, ingatkah dulu saat kita sama-sama bangga dengan karya yang kita lahirkan? Nama kita tertera dalam sebuah surat kabar, foto kita terpajang dalam tabloid remaja, dan film kita diputar di sekolah. Dan bersama-sama, kita unjuk gigi dalam berbagai event.
Kawan, aku rindu masa-masa itu. Sebuah keasingan yang berbuah ke-asik-an dan kebersamaan. Kita beda kita bersama,,, ingin sekali terus berteman dan berkarya bersama kalian.
Kawan, selagi matahari masih bersinar, kebersamaan kita pun tak akan pernah tenggelam. MIIS U ALL :’(
